Ujian Promosi Doktor di SPs UPI
Tanggal 21 Maret yang lalu merupakan hari yang cukup berharga (penting) untuk saya, meskipun tidak untuk orang lain. Hari itu adalah untuk yang pertama kalinya saya menguji seorang calon kandidat doktor di SPs UPI. Mengapa hal ini saya anggap penting bagi saya (dan bukan bagi orang lain)?, sebab barangkali ujian ini sudah terlalu biasa bagi penguji lain, tetapi ini adalah yang pertama kali bagi saya. Artinya, saya menguji di depan sidang terbuka promosi Doktor di mana dalam sidang itu saya harus mengajukan beberapa pertanyaan atau bantahan, dan bagi saya pertanyaan-pertanyaan itu akan mengukur sejauh mana kapabilitas seseorang menguji calon doktor. Ini bukan hal yang mudah bukan? kalau pertanyaan kita kurang bermutu, maka sudah bisa dipastikan akan menurunkan wibawa kita sebagai seorang penguji di hadapan khalayak ramai.
Alasan yang kedua adalah (mungkin ini alasan yang terlalu kekanak-kanakan), untuk pertama kalinya saya mengenakan toga yang sebenarnya diperuntukkan bagi guru besar, padahal saya belum lagi menjadi seorang profesor :P
Ada perasaan kontradiktif ketika saya mengenakan pakaian kebesaran itu, di satu sisi saya merasa bangga bisa mengenakan pakaian kebesaran itu, tetapi di sisi yang lain saya merasa miris, mengapa sampai saat ini saya belum bisa menyandang gelar guru besar? Mengapa hal itu didak dijadikan kepedulian oleh saya? (orang lain berlomba-lomba untuk menguruskan kegurubesarannya, sementara saya mengabaikan....)
Tanggal 21 Maret itu saya menguji anak dari guru saya sendiri (Erliany Syaodih adalah anak dari Prof. Dr. Nana syaodih Sukmadinata). Prof. Nana adalah guru saya sekaligus juga merupakan promotor saya ketika saya sedang sekolah S3. Beliau begitu baik, sabar, dan sangat mendorong saya untuk cepat menyelesaikan sekolah. Sekarang anak beliau dibimbing oleh saya, dan saya sangat bersyukur ketika mendengarkan pengumuman bahwa Erliany lulus dengan predikat cumlaude.
saya ketika sedang mengajukan pertanyaan pada sidang promosi Erliany
Satu minggu kemudian (27 Maret 2007) saya kembali menguji dalam ujian promosi doktor. Kali ini sudah tidak terlalu grogi, tetapi juga saya kurang berkenan dengan jawaban-jawaban promovendus (meskipun saya juga sebagai pembimbing). Ada semacam perasaan kecewa jika siswa bimbingan kita tidak dapat mencapai hasil yang terbaik.
Para penguji lengkap dengan Rektor dan Direktur SPs
Saya bersama dengan Prof. R. Ibrahim yang bertindak sebagai penguji
Bagaimanapun, saya sudah pernah menggunakan togas guru besar, mudah-mudahan ini menjadi pelecut bagi saya untuk mau menguruskan kenaikan menjadi guru besar. Doakan saja.......
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.