SAVING vs SPENDING
Dikirim oleh pak RT, 13 April 2001
Selalu terngiang-ngiang ditelinga kita pepatah sewaktu masih belajar di Sekolah Dasar yaitu Hemat Pangkal Kaya. Atas dasar ini, kemudian diadakan gerakan besar-besaran yang mendorong kita semua untuk mau menabung.
Setelah menjalankan hidup ini lebih dari setengah abad, ternyata pada kenyataannya saya mengalami banyak sekali kontradiksi yang terjadi di alam praktis, sehingga pagi hari ini saya sungguh-sungguh tergugah untuk mempertanyakan pepatah tersebut diatas.
Beberapa kenyataan praktis tersebut di antaranya:
Selama ini saya belum pernah melihat bahwa inflasi bisa diatasi dengan bunga simpanan.
Dalam pengembangan usaha, penekanan biaya (cost cutting) jelas-jelas merupakan tindakan defensive / protective dan sama sekali bukan termasuk dalam kategori tindakan offensive untuk memperluas atau meningkatkan skala usaha.
Adanya ekses dana atau kekayaan, biasanya dibagi dalam beberapa kategori misalnya dialokasikan untuk dibagikan / dinikmati stakeholder, ada yang untuk ditanamkan kembali berupa pengembangan usaha, dan ada juga sebagai cadangan yang bila diperlukan mendadak sudah tersedia. Dari ketiga kategori tersebut, biasanya yang terkecil adalah cadangan yang ketiga, sebab tujuan suatu usaha sangat jelas yaitu memberi kenikmatan atas segala upaya penanaman dan pembiayaan (spend / invest) yang dikeluarkan stakeholder usaha tersebut. Bila mau lebih bersabar, maka sebagian ditanamkan kembali sebagai investasi yang diharapkan akan melipatgandakan asset semula, sehingga kembali diharapkan akan membuahkan return yang memadai untuk dinikmati.
Dana yang benar-benar disimpan sebagai cadangan / tabungan dalam konteks menghemat, biasanya sangat dibatasi. Dari sisi lain kita bisa mengatakan simpanan ini adalah cerminan sikap yang konsumtif bukannya produktif, sehingga seringkali dikategorikan dalam buku sebagai suatu prospective cost atau bahkan lost / biaya tak terduga.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan diatas, melalui sudut pandang yang mungkin belum biasa kita gali (explore), sementara dapat disimpulkan bahwa hemat pangkal kaya merupakan suatu pernyataan yang agak terlalu gegabah. Pernyataan ini bisa kita ubah sedikit menjadi : menabung (saving) dengan cara berhemat adalah cadangan yang baik sebagai pelindung terhadap resiko. Ini mungkin lebih cocok! Dengan demikian, ungkapan menabung dengan cara berhemat akan membuat kaya, rasanya jauh dari maksud tadi dan sulit terealisasi.
Untuk menjadi kaya kita memerlukan elemen yang dapat melipatgandakan asset awal yang kita miliki. Misalnya penggunaan dana (spending) sebagai biaya investasi yang tepat justru akan membuat kita kaya, sedangkan tabungan hanyalah sekedar cadangan sebagai fall back bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Disini seolah-olah saya lebih condong untuk membelanjakan apa saja yang kita miliki dalam bentuk menikmatinya, atau menginvestasikan kembali melalui kegiatan baru (tentu dengan segala resiko barunya) dalam upaya melipatgandakannya dari pada terlalu banyak menghemat dan menyimpan resources yang kita miliki saat itu.
Melalui beberapa pengalaman pribadi saya mencatat, bahwa sejak memulai kehidupan berkeluarga, saya belum pernah melakukan pengumpulan uang untuk membeli sesuatu yang mempunyai nilai besar seperti mobil, rumah, dan lain lain, dan pada waktu saya mencapai keadaan di mana keuangan saya agak berlebih, selalu uang itu saya belanjakan, jarang saya simpan; sehingga bisa disimpulkan bahwa saya adalah orang yang paling sering pinjam uang.
Bahkan ketika pertama kali saya memiliki mobil sendiri, untuk membayar uang mukanya saja saya harus meminjam dari teman, dan sisanya saya cicil dari penghasilan saya. Ketika keluar mobil dengan model yang baru, saya menjual mobil yang belum lunas tersebut dan hasil penjualan tersebut digunakan untuk pembayaran uang muka pembelian mobil model yang baru tersebut, demikianlah seterusnya.
Untuk membeli rumah saya menggunakan rumus "harga rumah = 100 x gaji sebulan". Saya mencicil melalui fasilitas kantor yang dibayarkan dari gaji dan bonus. Waktu istri saya bertanya, "bagaimana kalau suatu waktu kita nggak sanggup bayar?" Saya menjawab, "nggak apa-apa, kan rumahnya bisa kita jual kembali kepada peminjam, sedangkan kita sudah menikmati rumah tersebut selama kita mencicil". Karena pada dasarnya sampai sekarang harga property selalu naik, kita masih mendapat tambahan hasil kenaikan harga rumah tersebut. Apakah itu bukannya 'a good deal'?
Begitu senangnya meminjam, ketika saya pernah memiliki cukup dana untuk beli suatu properti, maka uang tersebut saya gunakan untuk membeli beberapa saham yang cukup kuat terhadap dollar, sedangkan properti yang saya beli dibayar dengan mencicil dari sebagian dana yang saya miliki tadi. Ternyata saya mendapatkan untung besar yakni setelah 9 bulan harga saham tersebut naik lebih dari 2,5 kali lipat ! Untungnya properti tersebut lunas sebelum krismon ( ini resiko yang harus dihadapi bila terjadi sebaliknya).
Mungkin ada pertanyaan kenapa saya begitu mudah meminjam?
Pertama-tama menurut saya, meminjam jauh lebih mudah dan lebih sedikit resikonya ( kalau ada ) daripada jika kita yang meminjamkan ke orang lain.
Kedua, yang disebut dengan orang yang credible yakni orang yang pantas diberikan pinjaman, adalah orang yang pernah meminjam dengan skema yang fair, misalnya disertai jaminan yang layak ( seperti menjamin dengan property yang kita beli ), dan yang terpenting adalah mengembalikan pada waktunya. Jadi yang saya lakukan adalah mulai meminjam dari jumlah yang kecil sekali, secara bertahap dan setiap waktu mengembalikan tepat waktu. Dengan demikian kita dapat membangun citra kredibilitas secara bertahap pula, sehingga suatu waktu peminjam berani meminjamkan dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Sekarang, kita coba melihat dari sudut ajaran-Nya.
Satu-satunya pelipatganda resources terlihat pada ajaran Al Qur'an yang mengatakan : "apabila kita mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya maka kita akan mendapatkan kenikmatan yang berlipatganda".
Pernyataan ini dapat dianalogikan bahwa mensyukuri nikmat adalah kesempatan investasi terbaik yang kita miliki dalam menjalankan amal ibadah kita di jalan yang di ridhoi-Nya.
Dengan demikian, implementasi mensyukuri nikmat bukan hanya bagaimana kita menyatakan pada-Nya bahwa kita bersyukur, akan tetapi secara ikhlas kita berterimakasih atas seberapa besarnya pun pemberian-Nya dengan cara memanfaatkan pemberian itu semaksimal mungkin di jalan yang diridhoiNya.
Dengan perkataan lain, sebagaimana yang disebutkan tadi mensyukuri nikmat adalah satu-satunya mesin investasi terbaik yang mempunyai kemampuan pelipatgandaan resources kita.
Pemanfaatan di jalan yang diridhoi-Nya itu dapat dilakukan melalui banyak cara dalam banyak kesempatan, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sophisticated, misalnya dari benar-benar menikmati untuk diri sendiri dan keluarga sampai kepada pemanfaatan dalam lingkup yang lebih luas dengan memberi kepada yang sangat membutuhkan sampai pada kebutuhan jihad di jalan Allah. Tentunya masing-masing pemanfaatan mempunyai derajat pelipatgandaan yang berbeda tergantung ridho-Nya.
Nah, jika dibandingkan dengan beberapa pengalaman pribadi diatas, tampaknya dapat dicermati sikap saya, di mana saya selalu berupaya menikmati terlebih dahulu apa yang akan diterima yakni menjual masa depan ( melalui cicilan gaji ) untuk menikmati hasilnya sekarang. Di sini saya selalu berusaha menjadi orang yang paling mensyukuri nikmat dari-Nya, bahkan untuk nikmat yang belum diterimapun, saya telah nikmati serta syukuri.
Sesungguhnya dengan apa yang diperoleh selama hidup ini, saya merasa bahwa saya harus menjadi orang yang paling bersyukur atas hidup indah yang diberikan oleh Allah SWT, yang walaupun mungkin tidak seberapa bila dibandingkan orang lain, akan tetapi saya merasa sangat kaya karena memperoleh lebih dari apa yang saya harapkan, sehingga sepantasnyalah saya betul2 bersyukur kepadaNya.
Barangkali inilah yang menyebabkan saya merasa sering mendapatkan nikmat yang berlipat ganda, wallahu'alam bisawab !
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.