Saatnya harus mandiri
Pernah engga merasakan kehilangan? Setidaknya kita akan merasa sangat sedih jika kehilangan sesuatu, apalagi jika kita kehilangan orang yang kita cintai. Nah, saat ini saya merasakan hal itu, sedih yang amat sangat...., meskipun saya merasa kehilangan anak dalam pengertian sang anak harus pisah rumah karena dia harus sekolah di lain kota. Cengeng ya???? Mungkin jawabannya memang cengeng tuh! tapi itulah yang saya rasakan sekarang ini (08-09-07). Ceritanya begini....,
Saya punya 2 orang anak, yang pertama perempuan namanya Alfa dan dia sudah hidup mandiri sejak 7 tahun yang lalu sejak selesai kuliah dan bekerja di Ogilvy Jakarta(meskipun menikahnya baru 1 tahun yang lalu). Anak kedua laki-laki, namanya Vio, dan hari ini saya harus rela melepaskan dia kuliah di Jakarta; itulah yang menyebabkan saya merasa sangat sedih sebab harus berpisah lagi dengan anak-anak, artinya mereka semua lepas dan saya kembali hidup berdua dengan mantan pacar...
Tadinya Vio kuliah di Bandung, di fakultas kedokteran sebuh perguruan tinggi swasta, dan sudah 2 tahun dia kuliah di sana. Akan tetapi, sistem pendidikan yang dihadapinya tidak mencerminkan sebuah lembaga pendidikan calon dokter yang bisa diandalkan atau dipercayai, sebab satu hal yang saya rasakan aneh adalah di sekolah itu jika sang anak belajar dengan baik dan mastery terhadap substansi keilmuannya, maka hasil yang diperoleh adalah nilai buruk (D) dan dikatakan si anak tidak mempunyai konsep yang jelas. Jika si anak tidak belajar (atau tidak menguasai substansi keilmuannya) dengan baik dan cukup menghafalkan soal-soal bekas, maka dia akan memperoleh hasil yang mencengangkan (A atau minimal B).
Menghadapi semester 5, kami sebagai orang tua dipanggil oleh pihak dekanat dan disodorkan suatu kenyataan bahwa katanya Vio dianggap tidak mampu mengejar IPK minimal. Sign itu secepatnya kita atasi dengan memindahkan Vio ke fakultas kedokteran swasta di Jakarta (yang sistem pendidikannya sangat berbeda, yakni menggunakan PBL = problem based learning dengan pendekatan kelas internasional). Itulah sebabnya sekarang ini saya harus merelakan dia pindah ke Jakarta. Di satu sisi saya merasa sangat kehilangan karena tidak ada lagi teman berbincang pada malam hari di sembarang waktu, atau teman berenang berlatih diving di kolam renang; tetapi di pihak lain saya merasa sangat beruntung Vio bisa masuk ke fakultas kedokteran yang berbasis PBL itu. Saya melihat fasilitas yang dimiliki fakultas kedokteran itu sangat memadai, pendekatan pembelajarannya sangat menantang anak untuk belajar (dan Vio sangat bersemangat menghadapi tantangan pembelajaran yang demikian). Mudah-mudahan melalui pendidikan ini Vio bisa mencapai cita-citanya...
Mudah-mudahan kesedihan saya ini tidak berlangsung lama, ini hanyalah luapan seketika... Saya berharap Vio enjoy kuliah di sana, bisa menikmati senangnya belajar dengan baik dan benar (bukan menghafal soal bekas), dan bisa merasakan bahwa belajar itu sesuatu yang fun, yang perlu dinikmati. Inilah saatnya Vio belajar mandiri
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.