Hanckey

 

Perginya Suami Tercinta (2)

Page history last edited by hkamarga@... 10 mos ago

 

Meskipun sepenuhnya saya menyadari bahwa Deden akan pergi meninggalkan saya karena penyakitnya yang sudah tidak bisa diatasi, tetapi tak ayal kepergiannya itu membuat saya terkesima. Rasanya saya masih belum percaya bahwa Deden sudah tersenyum di sisi Allah (tapi kan dia meninggalkan saya sendiri ????). Rasanya masih belum cukup saya menikmati kebersamaan dengan Deden. Pribadinya yang sangat ramah, supel, terutama tidak pernah lepas dari tawa dan canda mengimbangi keseriusan saya, sehingga saya tidak pernah merasa bosan berduaan dengannya. Seringkali memang saya mengatakan, "kalau engga ada ayah, gimana ya saya bisa tertawa???".

 

Tak pernah sekalipun Deden berbicara keras pada saya, bahkan menaikkan suaranya satu oktaf lebih tinggi pun tidak pernah ia lakukan. Betapa baik dan sabarnya Deden terhadap saya, sangat bertolak belakang dengan sikap temperamentalnya jika di dalam kamar operasi. Bagi Deden, melempar skalpel atau klem adalah hal yang biasa, bahkan ngomel berkepanjangan merupakan lagu-lagu yang harus didengar oleh para perawat; tetapi jika sudah masuk rumah, maka hanya keceriaan yang diberikan kepada kami keluarganya. Bergurau, cerita-cerita konyol, yang semuanya membuat kita yang mendengarkan dapat tertawa lepas. Bahkan seringkali saya tertular oleh tertawanya.

 

Saya teringat ketika pertama kali saya berjumpa dengan Deden. Pada waktu itu saya harus mengantarkan sepupu saya yang bersekolah di Taruna Bakti, untuk bertemu dengan Deden di rumahnya, karena mereka akan menyampaikan kenang-kenangan untuk Deden setelah mereka berhasil dibimbing drama di sekolahnya oleh Deden (memang Deden senang main drama, main gitar, pokoknya begitulah..). Ternyata ketika kami sampai di rumahnya, dia baru bangun tidur dengan mata merah dan gelagapan karena kita datang beramai-ramai. Saya tidak menyangka bahwa pertemuan itu kemudian berlanjut dengan datangnya Deden ke rumah jalan Brantas. Saya tidak punya pretensi apapun, sebab memang saya lagi senang-senangnya main di kampus, maklum mahasiswa baru masuk tuh... :) jadi belum berpikir untuk mencari "cowok". Tapi Deden datang, datang, dan datang lagi, sampai-sampai kakak saya (laki-laki, dan dia paling dekat dengan saya) merasa terusik dan setiap Deden datang maka dia pasang muka cemberut (lucu ya???).

 

Akhirnya setelah berteman selama satu tahun, kami menikah juga, tepatnya 19 Februari 1978. Bayangkan, hampir 31 tahun saya hidup bersama Deden, dan kami menjalani kehidupan rumah tangga tanpa gonjang ganjing yang berarti. Meskipun kita mempunyai karakter yang bertolak belakang (Deden orangnya supel, ramah, dan cuek dengan segala aturan kedisiplinan, sedangkan saya orangnya agak tertutup dan sangat menjunjung tinggi disiplin), tetapi alhamdullillah kami dapat menyesuaikan diri dalam waktu yang tidak terlalu lama.

 

 

 

Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.