Hanckey

 

Padang

Page history last edited by hkamarga@... 1 yr ago

 

 

 

 

 

A Journey to Sumatera Barat

 

 

Beberapa hari menjelang bulan ramadhan saya melakukan perjalanan beresiko ke Sumatera Barat. Mengapa beresiko? sebab saya membawa ibu saya yang sudah berusia 87 tahun dan beliau sudah sangat susah untuk berjalan, sehingga saya harus membawa kursi rodanya dan harus mempersiapkan segalanya jangan sampai beliau merasa tersiksa dalam perjalanan yang cukup panjang ini. Tapi bagaimanapun perjalanan ini sangat mengesankan, dan bagi ibu saya ini merupakan perjalanan pulang kampung......., "mungkin yang terakhir kalinya", kata beliau.
 
Perjalanan dimulai dari Jakarta (waktu itu saya baru menyelesaikan pengobatan Tace untuk Deden, dan kita masih menginap di hotel Borobudur, sedangkan mama & Rina menyusul dari Bandung ke Jakarta. Sesampai di airport, Alfa & Aldo menyusul sehingga kita bertemu di sana. Alhamdullillah perjalanan ke Padang lancar,
 
di pesawat, Deden & Mama
 
Kita mendarat di Bandara Minangkabau Internasional (BMI) malam. Karena mama tidak kuat melanjutkan perjalanan ke Maninjau, akhirnya kita putuskan untuk menginap malam ini di Padang, dan kita dapat hotel Mayang.
 
Besok paginya kita melanjutkan perjalanan ke Maninjau (menyewa mobil lewat pak Syafruddin, thanks ya...), mampir dulu di air terjun lembah anai
 
 
 Sampai di Maninjau menjelang tengah hari, langsung checkin di hotel Maninjau Indah. Wah, ternyata Maninjau sama saja seperti yang saya kunjungi 25 tahun yang lalu. Hampir tidak ada perubahan, bahkan hotelnya jadi lebih jelek ketimbang dulu.
 
hotel maninjau indah, keliahtan kurang terawat ya......:(
 
Karena memang niat ke Maninjau ini adalah untuk mengurus warisan mama, maka setelah selesai beberes, saya menelpon ibu Rosmah (salah satu keluarga mama yang masih kita kenal dan selama ini merupakan kontak person) agar datang ke hotel. Beliau langsung datang, dan kita bicarakan kelanjutan dari tanah warisan mama yang ada di situ. Jadi, dari nenek saya (Syam Harun) ada sebidang tanah yang harusnya menjadi tanggungjawab mama & kakaknya yang di malang. Tetapi karena kakaknya itu engga punya anak perempuan, maka tanggungjawab itu jatuh ke mama yang punya 3 anak perempuan. Tanah itu sekarang terbengkalai tidak terurus dan hanya menjadi hutan perdu. Kita langsung pergi ke tempat tanah itu yang letaknya di pisang atas maninjau.
 
     
 
ini gambar tanah yang menjadi warisan untuk mama, tembok dengan tulisan SH menjadi bukti kepemilikan keluarga mama (gambar kiri)
 
Oleh mama tanah itu tidak boleh dijual, tetapi mama minta agar dibangun rumah di atas tanah itu. Saya berencana akan membangun 3 rumah yang nantinya akan diperuntukkan Uni Pop, Ilda, dan saya sebagai anak-anak perempuan mama. Kata ibu Rosmah, rumah itu nantinya bisa dikontrakkan untuk pegawai2 yang ada di sana. Meskipun Maninjau hanya kota kecamatan, tetapi aktivitas masyarakatnya cukup memadai, sehingga banyak juga orang yang membutuhkan rumah sewa dengan harga murah. Kita menginap semalam di Maninjau. Kalau mampir ke sana, jangan lupa mencicipi ikan khas maninjau yang rasanya uenak banget, dimasak belado atau di asap lalu dimasak dengan bumbu pedas. Pokoknya gak ada deh di tempat lin. Rina aja sampai tergila-gila sama masakan ikan itu.
 
Besoknya kita pindah ke Bukittinggi (setelah selesai masalah tanah di Maninjau). Di Bukittinggi kita menginap di hotel The Hills (dulunya hotel novotel). Di Bukittinggi kita menginap 2 malam, sekalian memberi kesempatan beristirahat untuk mama.
 
  
ini tampak dalam hotel, mirip bangunan tua
 
Bukittinggi sepertinya memang kota wisata. Hotelnya dekat sekali dengan pasar atas dan jam gadang. Jadi setiap saat kita main ke pasar atas dan jam gadang, bahkan tiap pagi saya mengajak mama jalan-jalan (dengan menggunakan kursi roda) ke jam gadang. Kita juga sempat mencicipi masakan nasi kapau di pasar atas. Nikmat banget lho.......
 
   
ini lagi menikmati makan nasi kapau di pasar atas. 
Nah, kalau gambar kanan itu kita lagi menikmati panorama Ngarai Sihanok
 
Besoknya saya mengajak mama dan Rina ke Batusangkar, tadinya mau ziarah ke makam Datuk (ayahnya mama). Tapi ternyata saya tidak dapat menemukan makam tersebut, sayang sekali ya.... Jadi kita ke sungayang (tempat batu angkek-angkek) lalu ke istana (bukan istana pagaruyung, tapi istana yang satunya lagi, saya lupa namanya tuh ).
 
   
di istana itu ada sarang tawon yang besar sekali ; saya lagi mencoba mengangkat batu angkek-angkek
 
udah gitu karena gak ketemu makamnya, jadi kita pulang aja kembali ke Bukittinggi, tapi mampir dulu makan siang di luar kota Batusangkar, lalu kita kembali ke hotel. Perjalanan itu cukup melelahkan bagi mama, tapi beliau kelihatan senang dan puas.
 
ini kita lagi makan siang, warungnya bersebelahan dengan kolam tempat memelihara ikan
 
Setelah dua hari menginap di Bukittinggi, maka perjalanan kita akhiri dengan kembali ke Bandung. Dari Bukittinggi ke Padang langsung menuju BMI untuk kemudian terbang kembali ke Jakarta, dan diteruskan dengan perjalanan ke Bandung. Perjalanan yang nonstop ini membuat mama cape barangkali ya, tapi ketika keesokan harinya ditanyakan, mama menjawab sangat menyenangkan, dan kalau bisa ingin kembali lagi ke sana......, nah lho...!!!
 
wajah tua yang sendu menatap birunya danau Maninjau tempat beliau dibesarkan sampai menjelang remaja.
komentarnya :"apakah ini perjalanan terakhir saya melihat kampung halaman?"
 

Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.