Hanckey

 

PEMUSNAHAN CANCER DAN PAHLAWANNYA

Page history last edited by hkamarga@... 2 yrs ago

 

KATANYA CANCER BISA DISEMBUHKAN DAN INILAH SANG HERO NYA

 

 

 

Cerita yang mencengangkan..., menegangkan.., dan insya Allah berakhir dengan menggembirakan.

 

Bermula dari keterkejutan kami sekeluarga kira-kira 2 tahun yang lalu, ketika Deden (ayah dari anak-anak) didiagnosa mengidap penyakit Hepatitis C. Penyakit yang menakutkan, sebab kondisi levernya yang sudah sirosis akan cenderung menjadi kanker di masa mendatang. Kemungkinan besar penyakit itu tertular dari pasien yang dioperasinya, sebab luka pada tangan akibat tertusuk jarum atau teriris pisau bedah adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Bagaimanapun, apapun penyebabnya, yang pasti keadaan ini harus dihadapi.

 

Mula-mula saya berharap penyakit hepatitis C nya dapat diobati melalui treatment dengan penyuntikan interferon (1 kali seminggu selama 6 bulan sampai 1 tahun). Memang treatment ini tidak murah, sebab biaya yang harus dikeluarkan setiap kali penyuntikan Rp. 3.000.000,-. Selain itu, dilihat dari statistik tingkat keberhasilan melalui pengobatan ini sangat kecil, hanya 30%; tetapi hal ini tidak menyurutkan keinginan saya untuk mengobati Deden. Keinginan saya rupanya tidak dikabulkan oleh Allah, sebab ternyata Deden mengidap diabetik sehingga tidak dapat mengkonsumsi interferon (bagi orang yang mengidap diabetik tidak dibenarkan mengikuti treatment interferon).

 

Saya diinformasikan oleh dr. Irsan (beliau adalah dokter RSCM bagian hepatologi) bahwa akan ada kongres APASL di Bali, dan dalam salah satu sesinya akan berbicara seorang profesor dari Cina yang mendalami tentang sirosis lever, di mana pada akhirnya beliau menghasilkan obat yang dapat menyembuhkan sirosis. Dengan harapan yang besar, saya mengajak Deden dan anak-anak ke Bali, selain untuk mengikuti kongres APASL tersebut, saya juga menginginkan liburan keluarga bagi anak-anak. Ternyata memang pada kongres tersebut di launching obat yang namanya AHFC, sehingga setelah pulang ke Bandung, saya menyediakan obat itu untuk dikonsumsi oleh Deden. Pengobatan melalui AHFC yang dikombinasi dengan HP Pro, Im Reg, dan BRM dilakukan sudah hampir 2 tahun. Selama pengobatan ini dilakukan pemeriksaan laboratorium setiap 6 bulan, dan hasilnya menunjukkan adanya perbaikan fungsi lever.

 

Sampai pada suatu hari, tepatnya di pertengahan bulan Januari 2007, Deden di CT Scan levernya di RS Boromeus. Hasil CT Scan menurut dokter radiologinya terlihat gambaran nodul cancer 3 buah yang masing-masing berdiameter 6cm, 3cm, dan 2cm. Wah, rasanya seperti mau kiamat dunia ini membaca hasil yang diberikan oleh dokter radiologi itu, sebab memang saya juga sudah tahu bahwa lever yang sudah sirosis tuh cenderung akan menjadi cancer. Wuuiii......., cobaan yang bagaimana yang akan diberikan oleh Allah kepada saya dan keluarga??? Ada perasaan schock, takut, bingung, tetapi juga ada perasaan bahwa Deden akan selamat (?) seperti yang saya rasakan 12 tahun yang lalu ketika Deden harus operasi Bypass Jantung. Saya berupaya agar Deden bisa konsultasi dengan Prof. Dr. Siti Aminah, tetapi hasil konsultasi beliau juga sependapat dengan radiolog yang dari RS Boromeus itu.

 

Saya masih belum putus asa, sebab teman Deden yakni dr. Marjo yang dinas di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto mengatakan ada seorang dokter dari bagian Radiologi RSPAD yang mengembangkan teknik TACHE (Trans Artery Chemotherapy Embolization) untuk pengobatan cancer. Tanpa harus melalui operasi, tanpa rontok rambut karena chemoterapi, kanker itu bisa dimusnahkan (baca deh tulisan Alfa ini).

 

Bagaimana sebenarnya pengobatan itu dilakukan?.

Bercermin dari konsep pemikiran terjadinya stroke, yakni akan ada jaringan otak yang rusak karena terjadinya penyumbatan yang dikenal dengan nama emboli, maka hal itu ditiru dalam pengobatan kanker. Jaringan kanker tumbuh karena diberi makan melalui arteri. Nah, apabila transportasi makanan tersebut diputus dengan cara emboli, maka diharapkan jaringan kanker tersebut akan musnah sehingga kanker bisa disembuhkan.

 

ini memperlihatkan proses emboli di mana jalan transportasi makanan untuk jaringan kanker diputus oleh proses emboli tersebut

 

Cara yang dilakukan adalah dengan memasukkan kawat berbentuk selang yang ditusukkan dari arteri pangkal paha sehingga kawat tersebut dapat mencapai lever dan setelah sampai di daerah yang diduga ada jaringan cancer ke dalam pipa kawat tersebut disuntikkan zat kontras sehingga akan tampak apakah memang benar ada jaringan kanker atau tidak. Apabila benar terdapat jaringan kanker, maka kemudian disuntikkan obat chemo dan dibuat emboli di daerah kanker tersebut dengan menggunakan obat chemo itu. Cara yang sederhana, tanpa prosedur operasi dan tidak perlu lagi penyinaran chemotherapi yang dapat menyebabkan kerontokan rambut dan gosongnya kulit.

 

Saya, Deden, dan Vio berangkat ke Jakarta untuk menyongsong harapan tersebut. Kita nginep di hotel Borobudur di Lapangan Banteng, dan di sana sudah ada Alfa & Aldo. Besok paginya kita ke RSPAD Gatot Subroto, dan disana diperkenalkan oleh dr. Marjo kepada dr. Therawan, Sp. Rad. Beliau inilah yang oleh Alfa disebut sebagai "hero", sebab dr. Therawan yang mengembangkan pengobatan dengan teknik TACHE tersebut di Indonesia. Pada saat ini ahlinya baru beliau sehingga tidaklah mengherankan jika kita harus antri untuk dapat berobat.

 

Sesuatu yang membuat saya sangat terkejut, tetapi juga sekaligus lega & bersyukur adalah ketika dr. Therawan menjelaskan adanya kesalahan diagnosa terhadap hasil CT Scan Deden. Beliau bersikeras mengatakan apa yang diduga jaringan cancer oleh dokter2 di Bandung itu sebenarnya BUKAN CANCER. Untuk membuktikan pernyataannya, dr. Therawan menjadwalkan Deden untuk di angiografi (pemeriksaan seperti CAD pada orang yang diduga menderita jantung koroner)pada hari selasa minggu depannya (kita konsul tuh kalo engga salah hari kamis). Pada hari selasa itu saya dan Alfa menemani Deden untuk di angiografi di RSPAD Gatot Subroto. Saya dipaksa oleh dr. Therawan untuk masuk ke ruang pemeriksaan dan melihat sendiri bagaimana proses angiografi tersebut. Memang dari layar monitor dengan jelas saya bisa melihat lever Deden dan setelah disuntikkan zat kontras terlihat sebagian dari pembuluh darahnya keriting (katanya daerah inilah yang diduga cancer yang sebenarnya itu adalah sirosisnya. Yang jeas, hasil pemeriksaan melalui angiografi Deden dinyatakan negatif cancer, artinya sejauh itu tidak ditemukan sel2 cancer dalam levernya. Syukur alhamdullillah saya panjatkan keharibaan Illahi, ternyata perasaan saya benar, bahwa Deden akan selamat....

 

ini foto lever ketika dimasukan zat kontras, pada bagian ini terlihat sel-sel lever normal

 

ini foto lever bagian kiri yang memperlihatkan pembuluh darah keriting, artinya pada bagian ini telah terjadi sirosis (mungkin ini yang diduga cancer oleh dokter2 di Bandung

 

ini juga foto lever bagian kiri yang memperlihatkan adanya jaringan yang sudah sirosis

 

ini foto ketika dimasukkan zat tumor marker (lipiodol), tidak tampak zat tersebut menempel sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat sel-sel cancer di dalam lever

 

Untuk lebih memastikan bersihnya lever Deden dari sel-sel cancer, 10 hari setelah angiografi Deden harus menjalani pemeriksaan CT Scan ulang, sebab ketika dilakukan angiografi juga disuntikkan Lipiodol (yakni zat yang jika ada sel cancer maka zat tersebut akan menempel pada sel cancernya sehingga pada pemotretan akan terlihat sebagai bercak-bercak putih dan zat itu akan bertahan selama 10 hari). Saya berdoa, mudah-mudahan memang tidak ada cancer dalam lever Deden....


 

YOUR COMMENTS


Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.