Hanckey

 

Mina dan Arofah

Page history last edited by hkamarga@... 9 mos ago

 

Kamis 25 Maret pagi-pagi kita udah siap berpakaian ichrom untuk berangkat ke Mina. Tapi sebenernya aku rada-rada kuatir ama Deden, soalnya katanya semalam dia sempat sesak dan memang waktu aku nengok ke kamarnya (dia masih tidur) aku lihat ujung kakinya biru. Kata mas Iman setelah dia dikasih adalat oros nya mas Iman baru reda sesaknya. Tapi menurut pak Dudu katanya itu karena Deden stres ngedepin saat berhaji, walahualam ! Bagaimanapun setelah sholat subuh berjamaah kita sudah siap berangkat. Dengan menggunakan bus kuno tanpa AC (kata pak Dudu itu busnya Hitler !), rombongan berangkat menuju Mina. Tidak ada hambatan di jalan dan semua rombongan masuk jadi satu dalam satu bus. Busnya itu seperti busnya anak-anak sekolahan di Amerika (school bus), hanya warnanya putih biru dan di atasnya dipasangin benderanya Istiqamah. Engga berapa lama kita sampai di Mina langsung ke pondokan.

pagi-pagi sudah rapi dan siap untuk berangkat ke Mina

Pondokannya hanya berjarak lebih kurang 150 meter dari tempat melempar jumrah Aqobah (deket sekali ya ? soalnya khan sebenernya tempat pondokannya jemaah Indonesia itu di deketnya terowongan muasim yang berjarak lebih dari 2 km dari tempat jumrah!. Tapi karena rombongan Istiqamah memisahkan diri = tanazul, makanya kita bisa dapat pondokan yang dekat). Pondokan itu letaknya di lereng bukit, jadi kalo mau masuk ruang pondokan kita harus naik tangga. Bentuk pondokan itu hanya satu ruangan besar yang dijejali oleh kurang lebih 200 orang. Rombongan Istiqamah dan Ibadurahman berjumlah hanya 60 orang, sisanya diisi oleh rombongan jemaah haji plus dari Brunei. Pemisahan antara kedua rombongan itu hanya dibatasi oleh selembar kain. Kita masing-masing memperoleh sekapling tempat untuk tidur dan di kapling itu kita melakukan segala kegiatan seperti makan, sholat, ganti pakaian, dan sebagainya. Untuk pembagian kapling diatur laki-laki di bagian depan dan perempuan di bagian belakang (hanya dibatasi oleh tas-tas tentengan) sehingga kalo mau sholat engga perlu wira-wiri lagi tapi cukup langsung sholat sebab laki-lakinya udah berada di depan (praktis juga ya ?). Tidur bersama itu ada enaknya tapi juga ada engga enaknya. Enaknya tuh kita gampang banget kalo mau ngobrol alias ngerumpi, kadang-kadang kalo perlu sama sesama teman tinggal tereak aja, soalnya khan satu ruangan. Tapi engga enaknya kalo mau ganti baju, wah.... harus buat kamar ganti dari kain panjang yang dipegangin ama 3 orang (unik juga lho..., soalnya aku belon pernah ngalamin seperti itu).

 

sampai di Mina, Deden & Ibu Pop menuju pondokan

 

Hari pertama di Mina kita hanya menunggu waktu untuk melaksanakan sholat sampai pada waktu sholat subuh keesokan harinya. Jadi, selain sholat kerjaan kita hanya makan dan tidur ! Enaknya, disediakan minuman terus-menerus (ada kopi, teh, air jeruk), jadi Deden yang kesenengan, soalnya bisa terus-terusan minta dibikinin kopi susu (padahal kalo di Mekkah mau kopi susu harus beli 1 real segelas, amboi.....!!!) Cuma repotnya kamar mandi + WC nya terbatas jumlahnya, jadi kita rada-rada susah kalo mau ke kamar mandi. Udah gitu kan kamar mandinya itu kamar mandi darurat, jadi bisa dibayangin dach gimana joroknya. Belon lagi kalo kehabisan air (orang-orang Brunei itu punya hobby mencuci sehingga air cepet habis, padahal air itu dikirim dari Mekkah). Menurutku dengan kondisi yang seperti itu maka dengan membandingkan dengan pondokan di Mekkah, aku membayangkan pondokan di Mekkah itu serasa hotel bintang 5 (padahal ketika baru datang di Mekkah kita-kita rada-rada ngomel-ngomel dengan keadaan pondokannya)!

Hari berikutnya setelah sholat subuh kita siap berangkat menuju Arafah. Kita nunggu rada-rada lama busnya belon dateng aja (ternyata jalanan udah rada-rada macet, sehingga busnya agak terlambat). Tapi akhirnya kita berangkat juga dan sampai di Arafah menjelang jam 10.30 pagi. Puter-puter nyari tempat wukufnya Istiqamah, setelah 3 putaran baru ketemu. Kenapa bisa begitu ? Ternyata kaplingnya Istiqamah (yang sudah disediakan oleh maktab khusus untuk jemaah Istiqamah dan dipasangin spanduk Istiqamah dan letaknya dipinggir jalan besar) sudah diserobot oleh jemaah Indonesia lain. Hal ini bisa terjadi karena jemaah Indonesia lain pada umumnya bermalamnya di Arafah (sedangkan kita khan bermalam di Mina), dan mungkin karena melihat tenda kita kosong (sedangkan di dalam tenda itu sudah disediakan alas tikar plus sajadah sebanyak jemaah Istiqamah) mereka masuk saja ke dalam tenda tersebut. Yah, kita terima saja dengan lapang dada pada akhirnya dipindahkan ke daerah lebih dalam. Karena kita juga sudah menyediakan tikar, maka dengan tertib kita menggelar tikar dan membagi wilayah untuk laki-laki di sebelah depan dan perempuan di sebelah belakang. Dengan dipandu oleh pak Dudu kita mulai mempersiapkan diri untuk Wukuf. Setelah sholat duhur, khotbah wukuf dan makan siang, maka kita mulai wukuf. Suasana di kapling Istiqamah sunyi sekali, tapi kapling di belakang kita terdengar suara orang ngobrol, becanda, dan sebagainya. Rupanya suara-suara itu berasal dari rombongan OKI/OKU yang sudah dua hari satu malam berada di Arafah. Sebenernya kasihan juga mereka, karena sudah lebih dari 24 jam berada di dalam tenda barangkali mereka sudah mulai merasa jenuh (karena mereka bermalam di Arafah) dan mereka kurang dibimbing tentang apa makna dari wukuf tersebut. Akibatnya waktu wukuf yang sangat terbatas itu (hanya dari waktu duhur sampai magrib) tidak digunakan sebagaimana seharusnya.

 

Lagi Wukuf di Arofah, saya sama ibu Pop

 

Menjelang waktu magrib, rombongan Istiqamah sudah digiring untuk masuk ke bus (jadi sepertinya rombongan kita tuh dateng belakangan tapi pergi duluan) dan bus meluncur menuju gerbang Arafah. Begitu suara azan magrib terdengar, gerbang dibuka dan dengan mulusnya bus meluncur menuju Muzdalifah. Dengan pengaturan yang demikian, maka kita engga terjebak macet sebab bus sudah menunggu persis di depan gerbang. Sampai di Muzdalifah busnya masih leluasa untuk mencari tempat parkir dan kita bisa memperoleh tempat untuk mabit (bermalam) persis di pinggir jalan besar. Aku sempat kena heatstroke waktu di Arafah, sakit kepala luar biasa dan mual-mual. Makanya begitu nyampe di Muzdalifah aku langsung gelar tikar, ikut sholat magrib + iesya truz tidur ! Tapi tengah malam aku kebangun, ternyata mas Iman dan pak Dudu masih ngobrol, jadi aku ikutan ngobrol sambil lihat-lihat situasi sekitar.

 

Mabit di Muzdalifah, Deden nyenyak banget tidurnya..

 

Persoalan buang air kecil alias pipis juga menjadi persoalan yang cukup merepotkan (alhamdullillah aku engga pengen be'ol selama di Muzdalifah !). Untungnya tempat kita tidur itu dekat dengan sungai, sehingga ketika aku mau pipis tinggal jalan menuruni lembah kecil menuju sungai. Maka pipislah aku di sungai....!! (waw.., ini pengalaman baru lagi lho ! ketika aku pipis ternyata banyak juga orang lain yang membuang hajat serupa, dan tanpa malu-malu lagi kita pipis bersama. Tapi khan gelap..... jadi engga perlu sungkan-sungkan lah !). Trus lucunya lagi, ketika menjelang subuh dan aku pengen pipis lagi, aku dan beberapa temen diajak sama ibu Dudu untuk pipis di tempat yang lokasinya di antara 2 bus dan di kiri kanannya ditutupin pake kain panjang. Trus kita beberapa orang pipis bersama dan udahannya gantian aku yang megangin kain panjang untuk menutupi temen-temen lain yang pipis (kayaknya hal seperti ini belon pernah deh terjadi di Indonesia).

 

Setelah sholat subuh, kita digiring untuk masuk ke dalam bus langsung berangkat kembali ke Mina. Alhamdullillah kita juga engga terjebak macet dan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit kita sudah sampai di Mina. Begitu sampai di pondokan kita disuruh makan pagi dan siap-siap untuk jumrah Aqobah. Setelah waktu dhuha, bersama-sama kita melaksanakan jumrah di Aqobah. Wuih...., lautan manusia yang berjejalan sempat menciutkan hati, tapi dengan dipandu oleh pak Dudu, kami satu rombongan dapat melaksanakan jumrah tersebut dengan baik, meskipun katanya Uni Pop sempat panik karena aku, Deden, dan beberapa teman sempat terpisah dari rombongan. Entah bagaimana caranya, pak Dudu bisa menemukan rombonganku yang terpisah itu (padahal aku sendiri rada-rada pusing melihat lautan manusia berkumpul di Aqobah). Pulang dari melempar jumrah kita istirahat di pondokan dan jemaah laki-laki digundulin kepalanya (dengan demikian sudah tahalul, artinya sudah boleh melepas pakaian ichrom).

 

Menjelang siang kita berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan tawaf ifadah. Tadinya aku kira kita akan jalan kaki ke Mekkah (karena macet kalo naik kendaraan), tapi ternyata pak Dudu bisa memperoleh satu buah bus (tiap orang bayar 10 real untuk jarak 5 km) dan perjalanan Mina-Mekkah ditempuh tidak lebih dari 10 menit. Kita turun persis di depan Haram sehingga bisa langsung masuk dan melaksanakan tawaf ifadah. Tapi memang kita orang kebagian tawafnya di lantai 2 sebab di lantai dasar penuh sekali. Tawaf ifadah terpotong oleh sholat duhur (alhamdullillah, bisa sekalian istirahat !) dan setelah selesai tawaf ifadah kita ke pondokan yang di Mekkah untuk istirahat. Wah, aku foya-foya mandi, be'ol, dan sebagainya (soalnya di Mina air terbatas sekali !). Sorenya kita kembali ke Mina, kembali tidur-makan-sholat bersama dalam satu ruangan (tapi dibandingin sama waktu di Muzdalifah, kayaknya pondokan di Mina itu terasa mewah sekali lho !). Malamnya kita jalan-jalan ke pasar dadakan di sekitar pondokan. Di pinggir jalan ada banyak pedagang kagetan terutama orang-orang yang berasal dari Rusia (Chehnya) dan yang didagangin itu barang-barang buatan Rusia. Seneng sekali nonton kesibukan pedagang-pedagang tersebut, dan kita juga seneng lihat barang-barangnya yang aneh-aneh (peraturan engga boleh belanja sudah dicabut, soalnya khan prosesi ibadah haji sudah hampir berakhir).

Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.