3 - 8 September 2006 saya kembali ke Batam bersama Deden dan Vio dalam rangka Kongres PABI II. Kita berangkat langsung dari Bandung menggunakan Garuda Citylink. Ternyata hampir satu pesawat dipenuhi oleh teman-teman Deden yang juga akan mengikuti Kongres PABI II. Karena berangkatnya berbarengan, maka ketika sampai di Hang Nadim kita bisa menggunakan fasilitas pengantaran ke hotel yang disediakan oleh panitia.
Kita menginap di Novotel Batam yang letaknya di daerah Sei Jodoh. Lumayan deh, engga terlalu bagus-bagus amat hotelnya, tapi bersih dan lebih murah. Kamar Vio terpisah agak jauh, sebab pihak hotel sudah kewalahan menerima tamu yang berjubel. Karena sampainya sudah malam (berangkat dari Bandung aja udah jam 17.00 sore, ya pastilah sampai hotel udah gelap..), jadi kita engga kemana-mana kecuali makan malam di resto padang yang ada di seberang hotel.
Besok paginya, setelah mengantarkan Deden ke tempat Kongres di hotel Planet Hollywood, saya dan Vio bikin acara sendiri. Mula-mula kita sewa kendaraan angkot (lumayan murah lho, seharian keliling-keliling cuma Rp. 150.000,-) lalu mulai deh kita jalan. Mula-mula saya ingin lihat jembatan Barelang (Batam - Rempang - Galang), yang letaknya kira-kira 1 jam perjalanan. Ternyata jembatan Barelang tuh rencananya akan ada 7 buah yang menghubungkan pulau-pulau di sekitar Batam. Nah, yang saya lihat itu barulah jembatan Barelang 1, tetapi memang jembatan ini yang terpanjang dan termegah dengan konstruksi kawat besi baja.
saya dengan latar belakang jembatan Barelang
Di sini terlihat pemandangan ke arah laut yang cantik sekali
Dari jembatan Barelang, perjalanan kita lanjutkan dengan berburu barang bekas elektronik yang diimport dari Singapura. Kita diajak oleh supir angkot untuk sampai ke pusat penjualan barang bekas tersebut yang letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Ternyata memang sangat menakjubkan, televisi yang lebarnya 1 meter ada dijual di situ dengan harga sangat murah (antara 1-3 juta saja). Selain itu juga dijajakan furniture, barang pecah belah, yang semuanya diimpor dari Singapura. Saya sih cuma lihat-lihat aja, engga bisa beli lah, gimana mau dibawanya??? Tapi ada juga sih belanjanya, yakni saya dan Vio beli sepatu-sepatu import yang harganya gila banget murahnya....
ini lagi berada di kios yang menjual sepatu-sepatu import
Dari tempat penjualan barang bekas, kita jalan ke Pelabuhan Batam Center sebab saya ingin memperoleh informasi yang jelas tentang perjalanan ke Singapura melalui jalur laut. Eh, ternyata pelabuhan Batam Center tuh bagus lho, engga seperti bayangan saya bahwa pelabuhan itu kumuh dan sebagainya (soalnya pelabuhan Punggur di timur Batam juga terkesan kumuh tuh..). Di seberang Pelabuhan Batam Center terdapat Batam Mega Mall yang baru diresmikan, keduanya dihubungkan dengan jembatan yang cukup representatif. Dari pelabuhan ini kita bisa naik ferry menuju Singapura yang jarak tempuhnya cuma 45 menit. Di sini pula kita bisa beli tiket ferrynya untuk perjalanan pulang pergi, relatif murah kok... (yang mahalnya tuh bayar fiskalnya, tapi kalau ke Singapura dari Batam ini charge fiskal hanya Rp. 500.000,-).
ini pemandangan ke arah Pelabuhan Batam Center yang diambil dari Batam Mega Mall
Setelah puas keliling-keliling, kita kembali ke hotel untuk istirahat. Sorenya saya mengurus pembelian tiket untuk menyeberang ke Singapura tanggal 8 September 2006. Setelah itu saya dan Vio jalan-jalan menyusuri pasar di Sei Jodoh, lihat-lihat berbagai barang yang diimpor dari Singapura. Banyak toko di Sei Jodoh yang menjual khusus barang Singapura seperti jam tangan, minyak wangi, koper, baju, dan sebagainya. Setelah cape muter-muter, kita mampir beli makanan di Yonkee. Restoran ini sangat terkenal dengan sup ikannya.
Tanggal 8 September pagi kita sudah berada di pelabuhan Batam Center. Setelah menyeberang yang cuma 45 menit, kita terkena antrian panjang ketika akan masuk pelabuhan Harbour Front di Singapura. Baru bisa keluar imigrasi sekitar jam 12.00 an dan sudah ditunggu sama Thalia dan Ari.
ini kapal ferrynya, dan kita lagi dalam penyeberangan di ferry
Enak juga main ke Singapura di guide sama Thalia dan Ari. Mula-mula kita diajak makan siang di Kampong Malaka, daerah Glum. Makan dengan menu masakan Padang, sedaappp..... Sesudah makan lalu kita jalan melihat Mesjid Raya yang ada di dekat situ, lalu perjalanan diteruskan ke pasar buku Brass Basah.
makan siang dengan menu masakan Padang
Mesjid Raya yang terdapat di Kampong Malaka
Di pasar buku Brass Basah kita menghabiskan cukup banyak waktu, sebab Vio memang ingin mencari buku-buku kedokteran yang dia butuhkan. Seneng sekali lihat begitu banyak buku (dan lebih banyak lagi buku yang used yang harganya murah banget....). Satu kompleks gedung terdiri atas 5 tingkat semuanya menjual buku !! Cape berbuku ria, kita istirahat di National Library Singapore. Di pinggirnya ada temapt minum dan tempat istirahat yang enak.
lagi istirahat dan minum di cafe National Library
Setelah cukup beristirahat, perjalanan dilanjutkan ke China Town. Sebenernya saya sudah pernah kesini sebelumnya, waktu kita liburan 2 tahun yang lalu. Tapi rasanya engga puas-puas juga melihat kampung cina ini, bersih, dan yang enaknya tuh ada kantin di pinggir jalan yang beratapkan langit.
sekilas suasana di China Town)
Saya belanja oleh-oleh di sini, juga beli kacamata :), sementara Deden istirahat di warung pinggir jalan. Kita menghabiskan sisa waktu di sini, sebab sorenya kita sudah harus kembali ke Batam. Dari China Town ini tinggal naik MRT menuju Harbour Front untuk kembali ke Batam. Di Harbour Front saya beli oleh-oleh coklat... Malamnya kita sudah mendarat kembali di Batam, jadi ke singapuranya cuma seharian aja tuh tapi puas deh..
Besoknya, hari terakhir di Batam, saya dan Vio jalan-jalan ke Bintan Resort. Ini adalah sebuah resort yang iklannya lumayan bagus tapi kenyataannya menyebalkan !
Saya merasa tertipu dengan iklannya bo'!!! Kita menyeberang ke Bintan dari pelabuhan Punggur. Sesampainya di sana, ternyata daerah itu sangat sepi, sangat jarang kendaraan yang akan mengantarkan kita ke resort padahal resort itu letaknya jauh sekali dari pelabuhan. Pokoknya sangat tidak sesuai lah antara brosur dengan kenyataannya. Terpaksa saya dan Vio naik ojeg untuk sampai ke resortnya. Ternyata kemudian saya dikecewakan karena kita dihadang oleh satpam yang meminta agar KTP ditinggalkan di pos satpam. Brengsek banget deh, meskipun saya berkali-kali bilang bahwa kita adalah tamu hotel, tapi mereka tidak percaya dan tidak mengijinkan kita masuk kalau tidak meninggalkan KTP
Ferry yang membawa kita ke Bintan Resort
Akhirnya setelah kesal bersitegang, Vio meninggalkan KTPnya di pos satpam, dan setelah kita sampai di hotel, saya komplain ke pihak hotel atas perlakuan yang saya terima itu. Pihak hotel cuma bisa bilang MAAF.......... (tapi gak menyelesaikan masalah kan???). Saya check-in untuk 1 malam meskipun saya sama sekali tidak berniat untuk bermalam di sini. Ternyata juga saya sangat kecewa dengan kamar hotelnya yang engga lebih bagus dari kamar hotel yang ada di pulau Sepa, engga sesuai antara harga yang harus dibayarkan dengan fasilitas yang disediakan. Pokoknya engga akan kesini lagi deh...., dan saya juga menyarankan orang yang ingin berlibur kesini untuk berpikir 7 kali.........
resto yang menghadap laut, hampir mirip dengan yang di Bali, tapi disini sangat sepi dan kurang nyaman
Mengapa saya tidak merekomendasi untuk berlibur ke sini?
Harga yang ditawarkan sangat tidak masuk akal (bayangin aja naik bus dari pelabuhan ke hotel itu 5 kali lebih mahal daripada ongkos taksi di Batam
Sepi dan tidak ada hiburan lain selain main di laut, padahal lautnya juga tidak sebagus pantai-pantai yang ada di Bali
Hotelnya jelek banget, mahal, dan fasilitas yang diberikan engga sesuai dengan harga yang harus kita bayarkan
dan yang terakhir, satpam-satpam nya sok ngejago, nyebelin......
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.