Kisah di Chinatown
Tujuan pertama sesampai di Singapura adalah ke Chinatown, karena memang kita rencananya mau stay di sana selama 2 malam. Sebelumnya sih Vio udah browsing untuk lihat-lihat kemungkinan cari hotel di sana, tetapi yang tidak kita antisipasi adalah penuhnya hotel karena kita engga menduga pada saat ke sana tuh ternyata bersamaan dengan berakhirnya Great Singapore Sale dan Independence Day Singapore. Dua peristiwa yang menyebabkan Singapura diserbu oleh orang-orang indo. Begitu turun dari MRT, kita mencoba ke hotel 81 di pojokan Cross st, tapi begitu lihat harga per kamarnya sampai 300 dolar ya gak jadi lah…. Lalu kita balik lagi masuk ke MRT station, keluar di Pagoda st. tempatnya Chinatown heritage. Di sana kita ngubek-ngubek nyari yang namanya hotel, tapi gak ketemu tuh, sebab ternyata hotelnya ada di Mosque st, bersebelahan dengan Pagoda st. Hotel Dragon di Mosque st sudah penuh, tapi ada satu penginapan khusus untuk backpackers yang menyewakan hanya tempat tidur. Saya engga tertarik, sebab kok sepertinya engga ada privasinya ya….. Jadi kita jalan lagi menyusuri lorong-lorong di sekitar Chinatown sampai ke derah Kreta Ayer. Saya udah kecapean, lalu Vio aja yang meneruskan jalan mencari penginapan, sedangkan saya dan Rina duduk aja di pinggir jalan. Rasanya tuh ransel pengen ditinggal aja di jalan deh, gila banget…., udah cape, berat, panas lageee…..
Setelah cape berkeliling dan engga juga dapet penginapan, akhirnya diputuskan kembali ke backpackers inn. Kita check-in dan masing-masing dapat tempat tidur. Saya dan Rina dapat tempat tidur di atas, sedangkan Vio menjaga di bawah.
Ini tempat tidurnya Vio
Ini tempat saya dan Rina
Kelihatannya sih oke deh, kamar mandinya juga cukup bersih, dan ruangannya dingin banget AC nya. Semua barang kita masukkan ke dalam loker (tiap loker ditarik bayaran 5 dolar), udah gitu kita siap untuk jalan lagi. Mula-mula kita masuk ke Pagoda st dan cari tempat makan. Cukup dengan nasi goreng dan es teh saja, yang penting jangan sampai hipoglikemi dach. Keluar dari Mosque st, kita masuk ke jalan yang agak besar bernama South Bridge rd, lalu sekitar 100 meter kita masuk lagi ke jalan kecil yang namanya Pagoda st. Di sinilah tempat dijualnya pernak pernik berbau cina dan di jalan inilah terletak Chinatown Heritage. Ujung jalan ini bermuara pada jalan masuk MRT Chinatown.
,
Suasana di Pagoda st. yang keseluruhannya merupakan pedestrian
Di sini kita duduk di salah satu warung makan dan memesan makanan untuk mengisi perut yang udah kelaparan. Satu porsi nasi goreng ayam, satu gelas besar teh tarik pake es bikin kita kenyang deh.
Asik ya nasi gorengnya, dan teh tarik es nya menggiurkan di tengah teriknya matahari
Vio bikin ngiler aja tuh
Sesudah mengisi perut dan merasa cukup istirahat, perjalanan kita lanjutkan. Tujuan selanjutnya adalah hunting buku ke Bras Basah daerah Victoria. Dengan menggunakan MRT kita menuju City Hall, jadi dari stasiun MRT Chinatown menuju Outram Park dan di sana ganti MRT yang ke arah Changi dan kita turun di City Hall. Rasanya sih masih happy-happy aja sebab belum ada beban bawa buku-buku yang tebal dan beratnya gila-gilaan :(
Bergaya di dalam stasiun MRT
Setelah keluar di City Hall, mau jalan ke Bras Basah
Keluar dari stasiun MRT City Hall, kita jalan kaki mencari kompleks Bras Basah. Meskipun ini bukan yang pertama kali untuk saya dan Vio, tapi ternyata kita juga nyasar alias keliling dulu baru bisa ketemu yang namanya kompleks Bras Basah. Lumayan cape lho kita keliling, tapi jadi tahu National Museum of Singapore, Singapore Management University, Cathedral, wah…., biar nyasar juga tapi jadinya banyak yang dilihat tuh. Setelah beli buku-buku untuk Vio (medical books), nyasar itu menjadi sesuatu yang membuat saya menderita sebab selain harus jalan kaki, ditambah dengan beban bawa buku-buku itu yang engga tahan deh…. Akhirnya kita pulang kembali ke penginapan untuk menyimpan bawaan yang superberat itu (karena udah gak kuat lagi jalan menuju stasiun MRT, akhirnya kita naik taksi deh…). Tapi setelah semua beban disimpan dalam loker di penginapan, kok ya engga kapok ya, kita keluar lagi jalan menyusuri chinatown. Ada aja yang menarik untuk dilihat, tapi Rina engga bisa beli kacamata (yang memang jadi cita-citanya sejak berangkat dari Bandung) sebab tukang jualan kacamatanya udah tutup. Udah aja besok kita balik lagi deh……
Ini kita lagi jalan-jalan di pedestrian Chinatown, cari oleh-oleh lah
Udah cape jalan-jalan, kita cari tempat untuk makan. Di ujung Pagoda st yang berbatasan dengan South Bridge rd ada tempat makan semacam foodcourt dan di sana ada yang menjual makanan India namanya Indian Moslem Food. Kita coba pesan roti prata, ternyata enak banget lho, nyam nyam deh…., udah gitu murah meriah sebab seporsi harganya 1.5 dolar, isinya 2 lembar roti prata ditambah dengan 3 macam kuah kari yang berbeda, ada kuah kari ayam, kambing, dan yang satunya mungkin kuah kari kentang. Pokoknya sedap banget deh, engga bikin perut kekenyangan tapi kita puas.
Itu baki pengganti piring tempat roti prata dan kuahnya, si Vio nikmat banget makannya
Saya dan Rina juga lagi menikmati masakan India yang murah meriah
Nah, sesudah selesai jalan-jalan dan makan, kita kembali ke penginapan. Di sini saya baru menyadari bahwa tindakan saya untuk stay di penginapan ini engga bener deh, sebab ketika kita kembali penginapan itu penuh dan saya bener-bener merasa risih dengan banyak orang yang tidak kita kenal itu. Saya sempat panik, tapi kemudian setelah sholat baru saya bisa berpikir jernih. Kirim sms ke Thalia, minta tolong dicarikan hotel. Setelah beberapa waktu (rupanya Thalia juga kerepotan karena hampir semua hotel penuh), saya dapat balasan dari Thalia ada tersedia kamar di hotel Oxford, tapi baru bisa masuk besok siang. Yah, terpaksa deh malam itu kita tidur di penginapan backpackers. Saya dan Rina engga bisa tidur tuh, ada aja perasaan takut….., meskipun di bawah sudah dijaga oleh Vio. Besok paginya kita check-out dalam keadaan hujan masih mengguyur Singapura. Ceritanya dilanjutkan ke Cerita di rumah Thalia
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.