Pada tahun 1999 saya dan Deden mendapat undangan Allah untuk melaksanakan ibadah haji. Bersama-sama ibu Pop dan Mas Iman kami berangkat dengan rombongan ISTIQOMAH yang tergabung dalam kloter 33. Berikut ini saya paparkan tulisan yang sempat saya buat ketika pulang dari ibadah tersebut atas permintaan sodara-sodara dan sempat dirilis melalui miling list nya kamarga.
Mudah-mudahan tulisan tersebut ada manfaatnya terutama bagi sodara-sodara yang akan berangkat menunaikan ibadah haji. Pengalaman-pengalaman menarik, upaya-upaya menghadapi kendala selama dalam perjalanan (terutama kamar mandi......), dan suasana di sana sempat terekam dalam tulisan tersebut.
Tulisan tentang kenangan berhaji ini terdiri atas 4 bagian tulisan yakni (1) Dari berangkat sampai di Mekkah (yang merupakan isi dari tulisan di bagian ini), (2) (Mina dan Arofah, (3) Di Mina dan Jumroh, (4) Ke Medinah.
Selamat menikmati...!
DARI BERANGAT SAMPAI DI MEKKAH
Tanggal 16 jam 02.00 malam kami berempat sudah masuk ke dalam bis yang akan membawa kita ke jakarta. Bis-bis tersebut di pool di halaman Mapolda Jabar (jl. sukarno hatta bandung) dan yang boleh masuk ke dalam halaman cuma jemaah haji saja. Bisa dibayangkan betapa penuhnya pagar di luar halaman tersebut dijejali oleh para pengantar. Suara talbiyah berulang-ulang terdengar merdu meskipun hanya dari kaset saja. Tepat jam 03.00 bis bergerak keluar halaman dan kita disambut oleh lambaian tangan para pengantar sampai sepanjang hampir 300 meter. Perjalanan bandung jakarta tidak mengalami hambatan dan kita berhenti untuk sholat subuh/makan di cianjur. Jam 08.00 kami sampai di asrama haji pondok gede langsung di camp di kamar-kamar tidur sampai waktunya harus berangkat ke airport kira-kira jam 21.00 malam. Selama di asrama haji engga ada kerjaan selain ngobrol, nungguin waktu makan dan akhirnya sebelum berangkat kita orang disuruh mandi janabat dan langsung berpakaian ichrom karena kita akan niat dan talbiyah (berichrom) ketika melewati miqot (di Qornul manazil) ketika masih di dalam pesawat.
Di bandara kita sempat tertunda keberangkatannya karena ada 4 orang jemaah yang tertinggal di asrama sehingga kita baru take-off kira-kira jam 02.00. Sepertinya kita bakalan menghadapi banyak masalah nih, soalnya belon apa-apa udah ada hambatan begitu (tapi ternyata dugaanku itu salah besar, sebab selanjutnya yang kita hadapi itu hanyalah kenikmatan tanpa hambatan apapun). Perjalanan jakarta-jeddah yang kurang lebih 10 jam cukup melelahkan, tetapi setelah melalui miqot rasanya cape itu hilang, soalnya kan kita berulang-ulang terus bertalbiyah. Mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah kira-kira jam 06.30 pagi waktu setempat dan kita harus bersabar untuk menghadapi proses keimigrasian. Meskipun proses itu memakan waktu berjam-jam, tetapi tidak ada kekesalan menunggu sebab memperhatikan dan mengobservasi lingkungan fisik bandara (yang cukup unik dengan bangunan tenda-tenda besar) dan lingkungan orang-orang dari berbagai negara yang berbeda cukup membuat mata, telinga, dan pikiran menjadi sibuk. Setelah selesai proses keimigrasian kita masih harus menunggu pemberangkatan ke Mekkah. Waktu penantian itu diisi dengan duduk lesehan di atas karpet di pelataran luas dan kira-kira siang hari baru kita berangkat menuju Mekkah. Itu yang namanya makanan, engga pernah merasa kelaparan dach, soalnya waktu lagi menunggu sambil lesehan kita udah disodorin makan berat satu paket, eh.... waktu mau naik bis disodorin lagi makan berat satu paket plus sahara dan di tengah jalan dikasih air zam-zam satu botol gede. Perjalanan hanya memakan waktu 1.5 jam sehingga kira-kira jam 14.30 kita sudah sampai di depan tempat pemondokan (maktab 2 di daerah Sheib Amir). Pemondokan ini letaknya lebih kurang 500 meter dari Haram dan kalo mau ke Haram harus melewati pasar Seng (wuah...., kalo engga kuat-kuat hati sih maunya belanja aja tuh !).
Proses pembagian kamar cukup njelimet dan melelahkan, tapi akhirnya kita semua kebagian satu kapling untuk tidur dan menyimpan barang-barang. Rombongan Istiqamah kebagian 2 lantai yakni di lantai 7 dan lantai 8 dan aku sekamar ame ibu Pop (sekamar kite orang isinya 5 orang). Karena sudah berichrom dari pesawat, maka sebelum melaksanakan umroh kita banyak dibatasi termasuk engga boleh becanda dan yang paling berat adalah engga boleh buka kerudung meskipun di dalam kamar sekalipun (padahal udah hampir 1 x 24 jam belon mandi, kebayang kagak tuh gimana gatalnya rambut !!!). Nah, untuk mengurangi rasa gatal tersebut paling enak ya....tidur !

suasana di pemondokan dengan teman-teman sekamar
Tanggal 17 jam 01.00 malam kita semua dibangunin untuk bersiap-siap melaksanakan umroh. Setelah semua siap, dengan berjalan beriringan sambil bertalbiyah kita menuju Masjidil Haram. Melewati pasar seng aku terbengong-bengong, soalnya meskipun itu tengah malam tapi ramenya minta ampun ! udah gitu terang benderangnya lebih heboh dari pasar malem. Tidak terasa air mata mengalir begitu melihat bangunan Baitullah, serasa tidak percaya bahwa aku bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjidil Haram (di dalam hati aku ngomong sendirian untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi !) Allahuakbar...betapa keagungan terpancar, apalagi setelah masuk dan memandang Ka'bah air mata makin deras mengalir. Pertama-tama kita melaksanakan Tawaf Qudum lalu dilanjutkan dengan sholat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah selesai sholat kita istirahat di air zam-zam. Wah, rasanya nikmaaattt sekali bisa membasahi kerongkongan dengan air zamzam yang dingin (sekalian aja aku banjur kepala yang udah gatal-gatal itu biar ilang gatalnya dan membasahi sebagian badan biar segerrrrr). Sesudah semua kumpul, kita melaksanakan Sa'i dari Shafa ke Marwa 7 putaran dan semua prosesi umroh diakhiri dengan tahalul yakni menggunting sedikit rambut dan selesainya umroh itu kira-kira jam 03.30 pagi. Kita menunggu waktu subuh dengan mencari tempat yang enak di dalam mesjid. Nah disinilah terjadi kehebohan dengan hilangnya Deden. Engga tau gimana asal muasalnya, tetapi ketika akan sholat subuh Deden terpisah dari rombongan. Hilangnya Deden baru diketahui ketika kita selesai sholat subuh dan berkumpul kembali ternyata beliau tidak muncul. Lalu kita kembali ke pondokan dengan perkiraan Deden udah balik duluan, ternyata di pondokan juga kagak ade. Aku sempat panik, tapi pak Dudu dengan tenangnya bilang biarin aja nanti juga kembali sendiri ....(?). Engga berapa lama, kira-kira jam 08.00 Deden muncul dengan diantar oleh seorang mukimin. Wuah..., katanya sih Deden hilang karena kemarennya sempet ngeledekin orang dari OKU yang sesat mencari kamar dan seharian naik turun lift untuk mencari kamarnya. Itulah...., orang-orang pada bilang, "ini di Haram, jadi harus hati-hati kalo ngomong, bisa-bisa saat itu juga kita dibalas !" Rupanya itulah balasannya.
Mulai tanggal 18 sampai 24 Maret kita berada di Mekkah menunggu saat berhaji (ke Mina, Arafah, dan Muzdalifah). Waktu seminggu itu diisi dengan kegiatan ibadah sebanyak-banyaknya ke Haram, tapi kita dibatasi kegiatan ke Haramnya untuk menghindari diri dari sakit menghadapi saat berhaji. Jadi siang hari yakni waktu sholat dhuhur kita engga boleh ke Haram dan kita dilarang untuk belanja soalnya ntar kalo udah mulai belanja-belanja takutnya konsentrasi terpecah. Aku ke Haram seringnya malam hari (lewat tengah malam sampai waktu subuh) dan sore hari (waktu magrib sampai iesya) dan sering berempat dengan Deden, Uni Pop dan Mas Iman. Selalu yang kita lakukan adalah begitu sampai langsung tawaf lalu istirahat di air zamzam trus nyari tempat di lantai 2 yang menghadap multazam dan melakukan sholat tahajud dan menunggu waktu subuh. Setelah selesai sholat subuh kita pulang ke pondokan sambil mampir di pasar seng untuk beli roti kebab plus kopi susu atau ice cream dan dimakan sambil jalan pulang, tapi mata jelalatan ngeliatin barang-barang aneh yang dijajakan di pasar seng. Kadang-kadang mas Iman suka jalan-jalan sendiri dan pulangnya bawa oleh-oleh macem-macem deh seperti buah-buahan, sari buah dalam botol, atau makanan jajanan indonesia seperti kue lapis, kue cucur dan sebagainya. Seneng deh dioleh-olehin begitu, soalnya engga tau kenapa di sana bawaannya lapar melulu (tanya aja sama ibu Pop gimana beliau setiap habis bangun tidur selalu nomor satu yang dicari itu adalah makanan !).
Tanggal 18 Maret pagi rombongan Istiqamah diajak oleh pak Dudu tour (di sana istilahnya ziarah) ke Jabal Sur, jabal Rahmah (di daerah Arafah), Mina (melongok tempat nginepnya kita nanti), tempat jumrah, jabal Nur. Kita diajak tour begitu supaya tahu lokasi berhaji dan suasana/situasinya. Jadi kita udah tahu tuh bahwa di Mina pemondokan kita sangat dekat dengan tempat jumrah Aqobah (lebih kurang hanya 150 meter aja jaraknya), kita juga udah tahu bagaimana kondisi penginepan di Mina, bagaimana kondisi Arafah ketika sedang kosong yang nantinya akan dipenuhi oleh beribu-ribu tenda untuk Wukuf. Pulang dari tour engga ada kerjaan lain selain tidur. Tapi lagi enak-enak istirahat, tau-tau pondokan di sebelah tempat kita tinggal kebakaran. Aku tau itu soalnya jendela kamarku menghadap jalan raya dan bolak-balik terdengar suara sirene mobil pemadam kebakaran (dan juga tercium bau asap kebakaran tersebut). Kita tanya-tanya sambil tereak-tereak sama jemaah yang juga nonton dari jendela pondokan di seberang, jadinya tahu bahwa ada kebakaran di sebelah. Tapi karena tidak ada instruksi untuk turun atau keluar pondokan, kita-kita orang santai-santai aja anteng di kamar (ternyata juga banyak anggota rombongan yang engga tahu ada kebakaran di sebelah karena lagi tidur atau kamarnya menghadap ke arah lain, jadi hampir engga ada kepanikan dalam rombongan kita).

Mas Iman iseng banget....
Aku pernah nyoba'in tawaf di lantai 2 yang kalo dijumlah jarak tempuhnya mencapai kurang lebih 15 km. Ini gara-garanya dibilang ada kemungkinan nanti kalo mau tawaf ifadah sesudah melempar jumrah Akobah di Mina kita harus jalan kaki ke Mekkah nya (mengantisipasi kemungkinan macet di jalan antara Mina dengan Mekkah yang jaraknya kira-kira 5 km). Aku berdua Deden mencoba tawaf di lantai 2, tapi baru juga 4 putaran udah kecapean. Jadi istirahat dulu sambil minum air zamzam (yang juga tersedia di lantai 2) trus tidur-tiduran mengistirahatkan kaki, udah gitu dilanjutin lagi tawafnya sampai selesai. Ternyata dibutuhkan waktu lebih lama yakni lebih dari 1 jam untuk menyelesaikan 7 putaran tersebut. Pulangnya langsung tidur karena kecapean, trus bangun-bangun kaki rasanya berat banget. Untung di dalam rombongan kita ada jemaah yang pinter mijit (dia itu sebenernya paraji alias dukun beranak jadi pinter juga mijit). Aku minta tolong dipijit dan ternyata nikmat banget pijitannya. Akhirnya beliau dikasih julukan sama kita-kita orang mama paparazi dan menjadi langganan kite-kite orang, termasuk langganannya ibu Pop juga.
Eh..., ada juga bandelnya kite orang lho ! Khan udah diwanti-wanti engga boleh belanja ya ?, tapi kite orang nekad di satu malem pergi berlima (semua anggota dalam satu kamar kita) belanja ke pertokoan di bawahnya hotel Aziz Kogheer (lokasinya di depannya Haram). Kita bisa pergi soalnya di antara kita berlima ini ada ibu Dudu, jadi khan aman toch ? Engga kerasa tau-taunya kita di sana ampe jam 23.30 malam. Buru-buru aja kita pulang (jalan kaki lho !) soalnya takut ketauan. Untungnya engga ketauan sama anggota rombongan laen (meskipun aku yakin pasti pak Dudu juga tahu sebenernya, tapi diem-diem aja !) Heh..!, dasar aja ibu-ibu ya.... matanya pasti gatal melihat barang-barang aneh dan cantik dan maunya semua dibeli. Tapi apa daya kemampuan dalam dompet terbatas...he...he...he...
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.