Tahun 1991 Deden lulus sebagai Ahli Bedah Umum dan ditempatkan di Rumah Sakit Daerah Arjawinangun. Petualangan, itu adalah kata yang paling tepat menggambarkan kehidupan kami dalam masa 4 tahun. Deden bertugas sebagai dokter bedah di RS Arjawinangun, dan saya serta anak-anak tinggal di Bandung. Arjawinangun adalah kota kecamatan yang terletak tidak jauh dari Palimanan Cirebon. Kota kecil yang sangat agamis karena begitu banyak pesantren di sana. Deden mengontrak rumah kecil dekat dengan rumah sakit, sehingga dia dapat jalan kaki atau naik sepeda jika akan ke rumah sakit. Hampir tiap minggu kami bergantian saling mengunjungi, apakah saya dan anak-anak berlibur di Arjawinangun atau Deden yang pulang ke Bandung. Jika kami yang berlibur ke Arjawinangun, maka yang terbayang dalam benak anak-anak adalah main ke Cirebon, atau berpanas ria di rumah kontrakan kecil di pinggir kali. Tapi sekali lagi, kami nikmati kehidupan seperti itu. Jika Deden yang pulang ke Bandung, maka yang kami lakukan adalah jalan-jalan & makan bersama di luar pada akhir minggu
Kehidupan yang seperti itu kami jalani selama empat tahun. Ketika suatu saat saya harus menghadapi kenyataan bahwa Deden terkena Penyakit Jantung Koroner, dan dokter di RS Harapan Kita mengusulkan untuk operasi bypass. Cobaan apakah yang harus saya hadapi? Operasi bypass untuk semua cabang dilakukan bagi suami tercinta, dan selama 7 hari setelah operasi Deden dibuat KO alias tidak sadarkan diri karena begitu complicated kondisinya. Di satu sisi pemasangan Intra Aorta Baloon Pump (IABP) menyebabkan jantungnya tidak dapat berfungsi dengan baik (flatter), sedangkan jika tidak dipasang alat tersebut dikhawatirkan Deden tidak dapat melalui masa kritisnya. Selama 7 hari itu saya terombang ambing oleh ketidakpastian, hanya do’a dan do’a yang bisa dipanjatkan memohon kepada Allah untuk diberi kesempatan lebih panjang menikmati kebersamaan dalam kehidupan keluarga kecil kami ini.
Rupanya do’a dan tangisan menghiba saya didengar oleh Allah (yang saya rasakan memang Allah sangat sayang pada kami sekeluarga). Hari kedelapan, pagi hari….., tanpa diduga Deden sadar dari KO nya, sadar sesadar-sadarnya….., dan seperti orang yang sehat, seperti orang yang tidak mengalami operasi bypass, seperti orang yang baru dilahirkan kembali…. Suatu mujizat yang diberikan Allah kepada saya. Bahkan hanya tiga minggu setelah operasi bypass itu Deden dapat kembali bertugas di rumah sakit Arjawinangun. Bayangkan, kembali menjalani kehidupan yang cukup keras, naik bus menuju Palimanan, kemudian disambung dengan kendaraan umum menuju Arjawinangun, dan besoknya sudah kembali melakukan operasi terhadap para pasiennya. Padahal, baru tiga minggu sebelumnya Deden sempat tidak sadarkan diri selama 7 hari setelah operasi bypass….
Tahun 1995 Deden minta dipindahkan ke Bandung, karena terlalu berat bagi dirinya menjalani kehidupan antara Bandung – Cirebon. Akhirnya Deden ditugaskan sebagai dokter bedah di RS Ujung Berung. Maka kami dapat hidup serumah lagi J. Kami dapat menyicil rumah di Graha Puspa, rumah yang diperoleh dengan perjuangan kita berdua, rumah kebanggaan anak-anak, dan yang pasti rumah yang dipersembahkan oleh Deden untuk keluarganya (yang masih kami tempati sampai sekarang, dan sebelum ajal menjemput Deden, saya sempat mengucapkan janji pada Deden bahwa kami akan selalu menempati rumah itu sampai kapanpun..)

Kebanggaan Deden, bisa meninggalkan tempat berteduh untuk keluarganya
we proud of you, dad......
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.