Hanckey

 

Kenangan (2)

Page history last edited by hkamarga@... 9 mos ago

 

Selesai bertugas di Proyek Pengungsi Vietnam Galang Tanjung Pinang, Deden kembali ke Bandung dan dia harus melepaskan status pegawai negerinya karena dipanggil masuk wajib militer. Setelah menyelesaikan pendidikan Sepawamilnya, Deden ditugaskan ke Timor Timur bergabung dengan Batalyon 411/6 Kostrad. Terpaksa saya harus rela untuk berpisah kembali dengan Deden. Saya masih harus menyelesaikan studi akhir di Bandung. Wisuda atas kelulusan saya tanpa dihadiri oleh Deden sebab dia masih bertugas di Timor Timur.

Setelah saya selesai sekolah dan Deden kembali dari tugasnya di Timor Timur, kami pindah ke Salatiga Jawa Tengah sebab Deden ditugaskan di Batalyon 411/6 Kostrad Salatiga. Empat tahun kami lewati masa-masa paling manis di Salatiga. Alfa sudah mulai masuk sekolah TK, dan saya mengikuti kegiatan ibu-ibu Persit KCK (meskipun rasanya kok engga enak juga ya, sudah menyelesaikan sekolah cape-cape tapi ilmunya engga dipakai L. Kehidupan dalam tangsi adalah kehidupan yang memaksa saya untuk bersikap lebih dewasa. Kesulitan menyesuaikan diri terhadap kehidupan militer dipermudah dengan sikap, perilaku, dan tampilan Deden yang sangat membantu saya. Deden mengajarkan kepada saya bagaimana menyesuaikan diri dengan kehidupan tangsi, sampai akhirnya dengan bimbingan dan pendampingan Deden maka saya dapat menikmati hidup ala militer. Meskipun gaji sangat kecil, tetapi kami dapat bernapas lebih lega karena Deden diijinkan untuk buka praktek pada sore hari.

Kehidupan rumah tangga yang mulai tampak sosoknya ditingkahi dengan kelakuan Deden yang temperamental (seperti yang sudah saya katakan, Deden di luar rumah sangat temperamental, dan itu berbalik 180⁰ jika dia sudah masuk ke dalam rumah). Karena merasa terusik dengan diserempet mobilnya oleh kendaraan bus antarkota, maka Deden melakukan perbuatan melawan hukum. Supir bus dihajar habis yang berakibat Deden dihukum dengan keputusan pengadilan militer satu tahun masa percobaan. Dampak selanjutnya adalah Deden dipindahkan ke Batalyon 509/9 Kostrad di Jember Jawa Timur, yang ternyata Batalyon tersebut akan dikirim ke Timor Timur untuk jangka waktu 3 tahun.

Deden hanya bertahan 1 tahun di Yon 509/9 dan kemudian keluar dari dinas militer. Pada waktu itu saya sedang mengandung anak kedua (Ahmad Vesuvio), dan kehidupan dalam tangsi di Jember jauh lebih sulit ketimbang ketika kami di Salatiga. Di Jember Deden tidak bisa praktek sore, sehingga kita benar-benar hanya hidup dari gaji. Sangking sulitnya, saya sampai tidak mampu untuk memeriksakan kandungan ke dokter ahli kebidanan, apalagi membeli vitamin untuk di jabang bayi. Karena kandungan yang makin membesar, sementara gaji tidak cukup untuk menghidupi keluarga, akhirnya saya diungsikan ke Malang (mama tinggal di sana). Terus terang pada waktu itu saya dan Alfa hidup menumpang pada mama, sementara Deden tinggal di Jember. Kasihan juga dia harus mengurus dirinya sendiri. Tapi akhirnya berhasil juga Deden keluar dari dinas militernya. Masa bakti yang 5 tahun dianggap sudah cukup sebagai Sepawamil.

Tanpa pekerjaan? Anak dalam kandungan hampir lahir? Apa yang harus diperbuat oleh Deden? Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Bandung, tanpa tahu mau tinggal di mana dan mau mengerjakan apa?. Berkat kebaikan Dodi, kami diperbolehkan menempati rumahnya yang di Gunung Batu. Suatu anugerah yang tidak terkira, terima kasih yang sangat tulus kami sampaikan….. Alfa disekolahkan di SDK Paulus (karena hanya sekolah inilah yang mau menerima siswa pindahan di akhir cawu kedua) dengan bantuan mama  dan saya melahirkan Vio di rumah sakit Hasan Sadikin dengan bantuan dokter-dokter yang memberikan bebas biaya untuk kelahiran Vio. Lagi-lagi anugerah yang saya peroleh…., ya Allah, betapa baiknya orang-orang yang ada di sekitar kami….

Vio yang jadi kebanggaan ayahnya

Meskipun kehidupan rumah tangga mulai berjalan dengan baik, tetapi masih ada hal yang mengganjal. Deden masih belum mempunyai pekerjaan dan tidak punya gambaran akan masa depan kami. Allah maha penyayang, Deden diterima untuk menjadi dokter lepas pantai (BKKA Pertamina). Mula-mula dia bekerja untuk Santa Fee di off shore wilayah selat Sunda, kemudian pindah bekerja untuk Conoco membuka hutan di Irian Barat, dan terakhir Deden bekerja di HUFFCO di Kalimantan Timur. Cukup lama Deden malang melintang jadi dokter BKKA sambil kita mengumpulkan uang untuk biaya sekolah spesialisasinya Deden.

Setelah bekerja beberap tahun untuk Pertamina, akhirnya Deden diterima untuk mengambil spesialisasi di Bagian Bedah FKUP/RSHS. Mulailah kami menjalankan kehidupan sebagai residen Bedah. Meskipun berat, tapi Deden sangat menikmati kembali hidup dalam lingkungan akademik kedokteran. Meskipun sangat melelahkan, Deden tidak berhenti mencari kesempatan untuk menambah uang penghasilan bulanannya. Tahun pertama sebagai residen tidak diijinkan untuk praktek, maka Deden sangat rajin untuk jaga di UGD (namanya jaga gerbang, di mana kalau Deden menggantikan teman-temannya yang seharusnya jaga, maka dia akan memperoleh uang lelah sebesar Rp. 20.000,- per malam). Makin sering jaga gerbang maka makin besar uang yang diperolehnya; tetapi bukan hanya itu keuntungan yang diperoleh, dengan seringnya jaga maka dia dapat menangani berbagai kasus dan jam terbang operasinya sangat tinggi. Saya sangat menikmati kehidupan masa itu, ditambah dengan saya memperoleh pekerjaan sebagai dosen di IKIP Bandung. Akhirnya saya dapat mengamalkan ilmu yang saya peroleh, akhirnya ijasah saya tidak menganggur…

 

Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.