Akhirnya pada 19 Februari 1978 kami menikah… Pernikahan yang unik jika dilihat pada masa itu. Bayangkan, ketika kami akan menikah, pada waktu itu mahasiswa sedang bergolak yang dikenal dengan penyerbuan tentara baret hijau masuk kampus terutama di kampus ITB dan UNPAD. Protes mahasiswa menuai kekejaman para tentara yang menyebabkan banyak mahasiswa menjadi korban. Kampus yang selama ini aman dan tenteram, diduduki oleh tentara (padahal tumbangnya orde lama adalah hasil dari kerjasama tentara dan mahasiswa) dan kami para mahasiswa diusir keluar dari rumah sendiri alias tidak diperbolehkan masuk kampus. Pada saat itu kami sudah menyebarkan undangan pernikahan dan waktu pernikahan tinggal 2 minggu lagi. Siang harinya saya mendapat kabar bahwa Deden ditahan di POMDAM jalan Jawa dengan alasan penghinaan terhadap Soeharto. Apa sebenarnya yang dilakukan Deden? Ternyata dia ikut demo dengan para mahasiswa, dan dia membawakan puisi dengan suara yang sangat mirip suara Suharto. Deden memang punya kemampuan menirukan suara berbagai orang. Saya kalang kabut sebab kan kami akan menikah, kok calon mempelai pria ditahan? Akhirnya dengan pertolongan saudara yang juga seorang tentara Deden bisa dikeluarkan dari tahanan.
Keunikan kedua adalah tata cara pernikahan kami yang agaknya kurang lazim pada masa itu. Akad Nikah diselenggarakan di Mesjid Istiqomah Bandung, dan setelah akad nikah berlangsung tidak ada lagi acara lainnya. Kami tidak menyelenggarakan resepsi pernikahan sebab selain pada masa itu mahasiswa masih dalam masa berkabung, juga biaya pernikahan dapat ditekan. Saya meminta pada orang tua agar biaya resepsi pernikahan dialihkan untuk mengontrak rumah bagi kami setelah menikah. Karena kami menikah di mesjid, maka tidak diperkenankan menyelenggarakan acara makan berat, sehingga benar-benar kesederhanaan mewarnai hari pernikahan kami. Konsumsi yang disediakan hanya makanan ringan, itupun harus diletakkan di samping koridor mesjid. Rupanya keunikan pernikahan kami ini sekarang sudah mulai dijadikan tradisi terutama dalam keluarga saya. Daripada menghamburkan uang untuk biaya resepsi, lebih baik dana tersebut digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Ternyata saya dapat mengontrak rumah selama 4 tahun dari pengalihan biaya resepsi tersebut…
Beberapa hari setelah menikah, kami langsung pindah menempati rumah kontrakan kecil di daerah Ciumbuluit. Kami masih harus berjuang, sebab baik Deden maupun saya masih dalam status mahasiswa. Memang pernikahan kami ini disertai janji kepada orang tua bahwa setelah menikah kami akan menyelesaikan sekolah. Waktu itu Deden baru menyelesaikan studi sarjana kedokteran dan masih harus menghabiskan waktu paling tidak 2 tahun untuk menyelesaikan studi dokternya, sedangkan saya baru masuk tingkat 3 di Fakultas Sastra. Jadi, sebenarnya berat tantangan yang harus kami hadapi, ditambah lagi dengan kami langsung pisah dari orang tua dan sebulan kemudian saya hamil anak pertama.

Alfa adalah anak pertama kami,
dan Alfa paling seneng kalau dikasih hadiah cerita sebelum tidur oleh ayahnya
Meskipun demikian kami sangat menikmati masa-masa awal pernikahan itu… Kesederhanaan Deden sangat cepat ditularkan pada saya, tetapi disiplin saya sangat sulit diadopsi oleh Deden J. Satu hal yang sangat menonjol dari pribadi Deden adalah kedekatannya dengan orang-orang kecil yang ada di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat ketika kami tinggal di daerah Gandok Ciumbuluit yang notabene banyak premannya di situ, bahkan Deden berteman dengan bosnya preman sehingga saya aman jika pulang dari kampus sudah menjelang sore hari. Artinya kami tidak pernah merasa terusik atau diganggu selama tinggal di sana.
Empat tahun kami kontrak rumah di Ciumbuluit dan tinggal dengan segala kesederhanaan di sana. Empat tahun kami jelang perjalanan perkawinan dengan segala suka duka (tapi rasanya lebih banyak suka nya deh ..). Setelah Deden menyelesaikan pendidikan dokternya, kemudian dia ditempatkan di PMI dan mendapat tugas perdana sebagai dokter pengungsi Vietnam di pulau Galang Tanjung Pinang. Satu tahun Deden bekerja di sana, sedangkan saya masih menyelesaikan sekolah di Bandung. Artinya ini adalah kali pertama saya harus berpisah dengan Deden, dan kehidupan kami berikutnya penuh dengan keterpisahan karena tugas-tugasnya.
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.