
Jalan raya yang membelah kota Medinah menuju Mesjid Nabawi
Tanggal 8 April malam hari (kira-kira jam 20.00) rombongan Istiqamah sudah siap di dalam bus untuk berangkat ke Medinah. Di sini ada cerita lucu lagi, khan orang-orang OKI/OKU itu selalu jadi bahan olok-oloknya Deden dan teman-temannya. Nah, pada waktu kita mau berangkat itu mereka diolok-olok lagi sebab mereka baru melaksanakan tawaf wada setelah waktu magrib (dengan demikian kita jadi terlambat berangkat soalnya kita harus berangkat bersama-sama rombongan satu kloter, sehingga kita harus menunggu mereka selesai tawaf wada) dan mereka pontang-panting mempersiapkan diri untuk berangkat. Dari bus kita bisa nonton bagaimana sibuknya mereka, dan ternyata karena rombongan kita sudah siap untuk berangkat maka bus kita diberangkatkan terlebih dahulu. Di situ keluar olok-olok Deden yang nyukurin orang-orang OKI/OKU ditinggal (wah, kita berangkat duluan nih, nanti kan nyampenya duluan....!). Rupanya olok-olok itu langsung dibalas oleh Allah, ternyata supir bus kita engga tau jalan (karena dia orang Mesir yang dikontrak kerja selama haji) dan dia juga buta huruf. Akibatnya lebih dari satu jam kita cuma mondar-mandir dalam kota Mekkah karena si supir engga tau jalan kemana mau keluar kota Mekkah. Pak Dudu yang sudah biasa dan mengenal kota Mekkah berusaha untuk menjelaskan kepada si supir jalan keluar kota sambil nunjukkin rambu-rambu lalu lintasnya. Dasar dia buta huruf ya..., dia engga ngerti rambu-rambu tersebut. Itulah, pada akhirnya ya kita nyampe di Medinah paling belakangan......!!!! Setelah istigfar, baru kita bisa keluar kota Mekkah (aku sih seneng-seneng aja, soalnya khan jadi bisa lihat-lihat sudut kota Mekkah yang lain yang selama itu engga pernah sempat kita lihat. Apalagi malam hari di mana kota bermandikan cahaya lampu-lampu yang terang benderang. Ternyata kota Mekkah itu besar, bersih, dan cantik terutama toko-tokonya besar-besar engga seperti pasar seng yang selama ini aku lihat).
Perjalanan Mekkah - Medinah ditempuh satu malam suntuk, kita berhenti di tengah jalan untuk istirahat (terutama untuk pipis !) di salah satu pompa bensin yang menyatu dengan restoran. Pompa bensin plus restoran (ada banyak di perjalanan) itu juga terang benderang bermandikan cahaya lampu. Beberapa waktu menjelang masuk Medinah, kita berhenti di pos pemeriksaan (jangan ngebayangin kayak pos hansip, sebab yang namanya pos pemeriksaan itu besarnya segede gedung sate plus halamannya luas untuk menampung bus-bus besar parkir) dan diberi satu paket makan pagi (nasi masih panas plus lauk pauknya dilengkapi dengan buah dan air minum satu botol). Setelah selesai pemeriksaan kita melanjutkan perjalanan dan di jalan distop lagi untuk dikasih kantong berisi kue-kue plus minuman ringan. Itulah aku bilang, soal makanan sih kita engga akan kelaparan dach !
Kita masuk kota Medinah kira-kira jam 06.00 pagi langsung ke pemondokan. Pondokannya di daerah Al Massana, kira-kira jaraknya 500 meter dari mesjid Nabawi. Udara di Medinah cukup dingin seperti di Bandung tapi kering. Banyak angin sehingga terasa tuh udaranya mengandung debu (kalo di Mekkah lebih panas bila dibandingkan dengan Medinah). Meskipun udara cukup dingin, tapi mataharinya agak keras sehingga kita sering merasa silau dengan cahaya matahari tersebut. Aku paling malas menggunakan masker (karena di Medinah banyak debu jadi disarankan untuk menggunakan masker kalo keluar pondokan) tapi anehnya aku engga terkena batuk tuh ! Cuma aku pernah terkena radang mata (barangkali akibat dari debu ya ?) tapi diobatin sehari juga langsung sembuh.
Kota Medinah lebih cantik dari kota Mekkah. Namanya juga Medinah al Munawarah yang artinya Medinah kota yang penuh cahaya alias gemerlapan. Demikian pula mesjid Nabawi lebih cantik dari Masjidil Haram, di mana-mana dalam mesjid itu dihiasi oleh lapisan emas. Di dalam mesjid juga ada bagian kubah-kubah yang bisa bergerak untuk dibuka dan ditutup. Demikian juga bagian plaza di dalam mesjid di dekatnya Raudoh ada payung-payung besar yang bisa membuka dan menutup. Secara keseluruhan interior mesjid sangat mengagumkan. Tiang-tiang pilar dilapis marmer dan bagian atasnya dilapis dengan ukiran dari emas; dan seluruh mesjid diberi pendingin (AC). Lantai mesjid hampir seluruhnya tertutup karpet tebal dan di sana-sini tersedia gentong-gentong berisi air zamzam. Lampu-lampu di dalam mesjid unik-unik bentuknya dan sebagian merupakan lampu-lampu kristal. Aku suka ngelamun sama temenku, ngkali-ngkali aja ada yang jatuh lampunya trus bisa aku bawa pulang (he..he..he.. mana mungkin ???).
Di mesjid Nabawi ini tempat sholatnya perempuan dipisahkan dengan tempat sholatnya laki-laki (engga seperti di Haram yang campur baur sholatnya antara laki-laki sama perempuan) dan kalo dihitung secara keseluruhan barangkali tempat sholatnya perempuan itu cuma seperdelapan dari luasnya mesjid. Mesjid itu tidak terbuka selama 24 jam (barangkali untuk menghindari tangan-tangan jahil ya ?), engga seperti Masjidil Haram yang terbuka selama 24 jam. Nah, karena tempat sholatnya terpisah, kita selalu janjian kalo selesai sholat ketemu di pintu 27C yaitu pintu pojok kiri belakang. Jadi setelah selesai sholat, aku dan ibu Pop serta temen-temen nunggu dijemput ame nyang laki-laki di pintu itu, trus kita melanjutkan perjalanan pulang entah itu jalan-jalan dulu atawa langsung pulang. Di sekeliling mesjid itu penuh dengan toko-toko emas dan pasar atau toko-toko besar. Jadinya aku suka mikir, ini mau ibadah atau mau belanja ya ? kayaknya kita dicoba deh, kuat mana antara ibadah dan belanja.
Karena kita sampainya terlambat, maka kita kebagian sisa tempat di pondokan. Tapi menurutku itu ada hikmahnya, memang kita kebagian tempat di lantai atas tapi karena kamar-kamar itu sisa ternyata justru kapasitas tampungnya lebih banyak dari jumlah anggota rombongan. Kita kebagian 2 lantai teratas (gedungnya cuma bertingkat 5 sehingga lantai 4 dan 5 itu jadi miliknya Istiqamah sedangkan lantai 2 dan 3 dipakai oleh sebagian rombongan OKI/OKU). Karena kita kebagian kamarnya banyak, sebagai akibatnya ya foya-foya dach, ada yang sekamar cuma berdua (pak dudu dengan ibu Dudu) dan aku sekamar cuma bertiga (aku, ibu pop dan ibu Mimin) yang sebenarnya sudah disediakan kasur untuk 12 orang dalam kamar itu. Kan enak tuh, jadinya kita seorang memakai 4 lembar kasur yang ditumpukin. Begitu juga di kamar sebelah isinya cuma Deden, Mas Iman, dan suaminya ibu Mimin. Kita berenam mendapat 1 kamar mandi yang kayak kamar mandinya hotel, pake bath-tub, biddet, dan WC. Aku beribadah ke mesjid Nabawi baru sore harinya (siangnya engga ke mesjid karena selain kita masih cape juga itu khan hari Jum'at) rame-rame serombongan. Pertama masuk aku terkagum-kagum sama interior mesjid, bahkan sampai merebahkan diri terlentang (sambil menunggu waktu sholat) untuk bisa menikmati interior kubahnya. Selain ada ukirannya, di bagian dalam kubah itu juga ada tempelan batu berwarna hijau kebiruan membentuk gambar mozaik (kayaknya batunya itu batu pirus deh, pokoknya cantik sekali !) Semua pintu-pintu mesjid juga dilapisi oleh emas, pokoknya wah banget dach ! Selesai sholat magrib (yang dijama' dengan sholat iesya) kita makan malem di KFC (soalnya kita kebingungan tentang masalah makan ini, karena sudah tidak lagi ada katering dan belon ada perjanjian tentang masak memasak). Dikira'in bakalan nikmat makan di KFC, ternyata nasinya ya nasi Arab tea (yang kayak nasi kuning tapi kerasa banget minyak saminnya). Udah gitu belon juga selesai makan udah masuk waktu iesya, sehingga kita "diusir" dengan halus untuk keluar. Yah...., nasib dach ! Akhirnya sambil menunggu orang-orang pada sholat, kita duduk-duduk di depan toko menghadap plaza yang berbatasan dengan halaman mesjid Nabawi (bagian belakang). Di plaza tersebut (padahal sudah di luar halaman mesjid) masih banyak juga orang yang menggelar sajadah dan melaksanakan sholat, bukan main.....!!! (semua toko tutup). Selesai sholat, kita juga langsung pulang aja, soalnya udah engga ada lagi yang mau dikerjain.

Berpose di plaza Mesjid Nabawi
Besok subuhnya, kita ke mesjid lagi untuk sholat subuh tapi engga langsung pulang, soalnya mau tour di dalam mesjid alias mengunjungi Raudoh. Raudoh adalah tempat yang berada di antara rumah Rasullullah SAW dan Mimbar mesjid, berasal dari kata Raudatul Jannah (yang artinya taman surga). Banyak interpretasi tentang Raudatul Jannah ini, tetapi dari penjelasan yang aku dapat dari pak Duduh Raudoh itu adalah tempat di mana Rasullullah berkumpul dengan para sahabatnya dan beliau memberikan pelajaran (ilmu) agama. Kaitannya dengan taman surga diartikan bahwa penghuni taman surga itu adalah orang-orang yang mau belajar (berilmu) baik itu ilmu agama (terutama) maupun ilmu duniawi. Dan menurut pak Duduh, kita juga harus bisa menciptakan Raudoh di rumah kita yakni tempat di mana keluarga mengkaji ilmu agama (aku menginterpretasikan kata-kata pak Duduh itu dengan kita menyediakan tempat semacam mushola di rumah di mana semua anggota keluarga dalam rumah kita itu mengkaji ilmu agama bersama-sama, barangkali lho !). Menurutku, makna ini dalam sekali, di mana kita tidak hanya dituntut untuk melakukan ibadah (misalnya sholat 5 waktu), tetapi juga kita harus terus belajar (mengembangkan ilmu). Katanya sebaiknya kita menyempatkan diri untuk berdoa di Raudoh (yang arah doanya itu ada kaitannya dengan keilmuan). Karena Raudoh itu luasnya terbatas (apalagi untuk perempuan tempatnya kecil sekali dan kitapun waktunya dibatasi hanya dari jam 07.00 sampai 11.00), maka untuk mencapai wilayah Raudoh itu perlu perjuangan (seperti halnya kalo kita mau mencium hajar aswat). Setelah selesai sholat subuh, kita menunggu waktu dibukanya Raudoh (untuk perempuan) dan kira-kira jam setengah delapan rame-rame kita ke sana. Tapi pada waktu itu aku cuma melihat dari kejauhan saja sebab penuhnya luar biasa (dan waktu itu juga aku belum begitu mengerti makna dari Raudoh itu). Tempat aku menunggu itu ternyata adalah plaza di dalam mesjid yang sekarang sudah ditutup dengan payung-payung besar yang bisa membuka-menutup secara otomatis. Dari kejauhan juga aku bisa melihat yang namanya rumah Rassullullah SAW (sekarang menjadi makam Rasul). Pulang dari Raudoh kita keluar lewat pintu depan untuk melihat makam Baki (letaknya di depan mesjid Nabawi. Tapi kita engga masuk, cuma menyusuri di luar aja.
Hari ketiga di Medinah, kita diajak tour ke mesjid Kuba, jabal Uhud, dan Mesjid Kiblaten (tour ini diadakan oleh maktab dan gratis). Karena rombongan Istiqamah tidak dianjurkan untuk sholat di tempat-tempat yang kita kunjungi tersebut, makanya sesampainya di mesjid Kuba kita cuma mengelilingi bagian luar mesjid saja (itu juga cukup penuh orang lho !), berpotret ria (soalnya di sini boleh potret-potretan) dan Deden berburu kurma yang masih segar. Dari dulu Deden itu punya obsesi untuk makan kurma segar, makanya setiap Uni Pop ke Arab, selalu Deden minta dibawakan kurma segar. Tapi kan kurma itu segarnya cuma sehari udah gitu dia menciut menjadi kurma yang sering kita lihat tea. Nah, ternyata tempatnya kurma segar itu ya di halaman mesjid Kuba (banyak yang jualan). Trus Deden beli sekilo dan sepuasnya dia menikmati kurma segar tsb (menurutku memang rasanya lebih enak dari kurma yang biasa itu). Dari mesjid Kuba, kita melanjutkan perjalanan ke jabal Uhud. Jabal Uhud adalah tempat Rasullullah SAW berlindung ketika terjadi perang dan umat Islam mengalami kekalahan. Rasullullah SAW berlindung di dalam suatu gua di daerah jabal Uhud tersebut (jabal = gunung). Kata Uni Pop ternyata gunung-gunung yang ada di sekitar jabal Uhud itu mengandung emas (sudah diteliti). Jadi memang bener ya, seperti janji Allah bahwa Arab itu merupakan negara yang kaya, khan nanti kalo minyaknya udah habis mereka bisa menambang emas bergunung-gunung ! Di sekitar jabal uhud itu banyak pedagang jamu dari tumbuh-tumbuhan kering. Ada jamu untuk bisa hamil, ada jamu untuk bisa lancar melahirkan (rumput fatimah), dan ada jamu untuk mengobati penyakit rheumatik. Aku beli 2 kantong kecil jamu untuk mengobati rheumatik, tapi engga tau berkhasiat apa engga (kata uda Fazil sih berkhasiat), tapi yang jelas setelah dicoba rasanya enak juga lho ! pait-pait kayak teh tapi rada-rada harum. Terakhir kita mengunjungi mesjid Kiblaten. Keunikan mesjid ini adalah memiliki 2 arah kiblat (tapi arah kiblat yang satu udah engga dipake lagi). Kita juga engga melakukan sholat di mesjid ini, cuma lihat-lihat aja dan berpotret ria. Setelah dari mesjid Kiblaten, sebenernya tournya udah selesai, tapi kita ngojok-ngojok supir busnya supaya mau nganterin kita ke pasar kurma. Dengan menambah sedikit biaya, akhirnya kita dianterin juga ke pasar kurma dan hampir semua anggota rombongan belanja kurma (ternyata kurma juga banyak jenisnya lho ! selain ada kurma Rasul, juga ada kurma jenis sukhari yang rasanya manis sekali lebih manis dari kurma biasa, dan ada juga yang disebut kurma laki-laki, yaitu kurma yang kalo dimakan bisa membangkitkan gairah.......nah lho !). Kita selesai tour itu sebelum masuk waktu sholat duhur. Lucu ya, khan biasanya yang namanya tour itu memakan waktu satu hari penuh, tapi di sini tour itu selesai sebelum tengah hari. Ini disebabkan kita memulainya juga setelah selesai sholat subuh (jam 06.30 udah berangkat). Selesai tour langsung pulang ke pondokan dan sorenya bisa jalan lagi ke mesjid Nabawi untuk sholat magrib dan iesya.
Ziarah ke berbagai mesjid di Medinah (Quba, Kiblateen, dsb)

Terakhir, belanja kurna di pasar kurma
Medinah juga terkenal dengan kerajinan emasnya. Toko-toko emas berderet di sepanjang jalan di sebelah mesjid Nabawi. Kemilaunya emas tersebut sangat menyilaukan mata sampai-sampai ada joke bahwa kalo kita berada di dekat toko emas maka kita juga akan berubah menjadi berwarna kuning. Nah, untuk yang hobby mengumpulkan perhiasan emas, di sinilah sorganya. Emas di sini memang lebih bagus kualitasnya dan lebih halus buatannya, tapi jangan salah lho..... emas tersebut kalo mau dijual lagi di Indonesia harganya jatuh. Aku engga tau kenapa, tapi begitulah kenyataannya. Jadi aku sarankan sebaiknya jangan punya pikiran untuk membeli emas yang akan didagangin lagi di Indonesia, sebab pasti aja rugi.....!!!! Di kalangan beberapa ibu dalam rombongan Istiqamah juga terjadi persaingan membeli emas, bahkan ada yang sampe bertengkar dengan suaminya karena dia belon dibeli'in emas sedangkan teman sekamarnya udah dibeliin emas sama suaminya. Kalo dipikirin lucu juga ya, hanya karena perkara emas bisa jadi bertengkar antara suami isteri, padahal selama ini kita selalu diingatkan oleh pak Dudu untuk saling menghargai antara suami-isteri dalam rangka membangun keluarga yang sakinah.
Itulah kira-kira gambaran mengenai Medinah. kelihatannya memang seperti sorga belanja ya..... makanya aku suka mikir, mesjid berdampingan dengan pusat perbelanjaan, lalu kita ini mau ibadah atau belanja ? Aku sempat ketemu ibu-ibu (dari rombongan Ibadurahman) yang setelah ngobrol ketahuan bahwa dia engga jadi kemesjid (untuk ke Raudoh) karena udah keburu belanja dulu (barang belanjaannya mau dititip di mana kalo dia udah belanja baru ke mesjid, sebab ke dalam mesjid engga boleh bawa apa-apa khan ?). Pada waktu itu aku, ibu Dudu, ibu Pop dan seorang teman baru pulang dari mesjid untuk mengunjungi Raudoh. Kami berempat sengaja ke mesjid untuk berdoa di Raudoh (setelah aku diskusi dengan pak Dudu mengenai makna Raudoh). Kita dapat tempat di Raudoh dan bergantian salah seorang dari kita sholat (karena bukan waktunya sholat fardhu, maka yang dilakukan adalah sholat mutlak namanya), sedangkan yang 3 orang membentuk pagar mengelilingi yang sholat supaya engga diinjak/didorong oleh orang lain. Aku sholat 2 rakaat dan setelah selesai sholat aku berdo'a, tidak terasa mengalir air mata sambil aku meminta supaya anak-anak diberi kesempatan untuk dapat menimba dan mengembangkan ilmu (kata pak Dudu, Raudoh itu ada kaitannya dengan ilmu kan ?), terutama ketika aku berdoa itu terbayang wajah Vio yang selama ini agak kesulitan untuk mencapai hasil terbaik di sekolahnya. Ketika kita sedang sholat/berdoa, di sekeliling kita penuh sesak dengan orang-orang yang juga akan melakukan hal yang sama, bahkan tidak sedikit yang menangis meraung-raung, sedangkan dari arah belakang kita didesak/didorong oleh orang yang ingin juga mendapat tempat di Raudoh tsb. Untuk bagian perempuan, tempat Raudoh itu bisa kita kenali melalui warna karpet yang berbeda. Tempat Raudoh karpetnya berwarna putih, sedangkan karpet yang lain berwarna merah. Jadi kalo kita sudah mendapat posisi di atas karpet yang berwarna putih, maka kita sudah masuk ke wilayah Raudoh dan bisa melakukan sholat/ berdo'a).
Hari Sabtu subuh (tanggal 17 April) seharusnya kita sudah berangkat menuju Jeddah, tapi jadinya berangkatnya diundur sebab orang-orang yang melaksanakan sholat Arbain itu masih harus sholat subuh di mesjid Nabawi. Kita berangkat menjelang jam 08.00 pagi dan lagi-lagi kita nonton dari atas bus orang-orang OKI/OKU yang blingsatan memasukkan barang-barangnya ke bus (hampir semua mereka melaksanakan sholat arbain, sedangkan dari rombongan kita hanya 1 atau 2 orang aja yang arbain). Kita sudah siap sejak jam 06.30 di dalam bus dan menunggu mereka yang baru pulang dari mesjid lalu keburu-buru ngangkutin barang-barangnya masuk ke bus lain. Lagi-lagi Deden dan teman-temannya berceloteh soal yang sama, ngeledekin orang-orang OKI/OKU tersebut, dan ternyata ocehan Deden dan teman-temannya itu berakibat juga ke rombongan kita. Ceritanya memang kita berangkat duluan dan perjalanan ditempuh dengan mulus sehingga menjelang siang hari kita sudah memasuki kota Jeddah. Tetapi ternyata supir busnya membawa rombongan kita langsung ke airport King Abdul Aziz, sedangkan seharusnya kan kita dibawa ke asrama haji dulu (semua dokumen perjalanan kita ada di asrama haji Madinatul Hujjaj di Jeddah). Akibatnya karena kita sudah memasuki wilayah airport maka kita sulit untuk dapat keluar lagi dari airport itu. Kita tertahan di airport sekitar 2 jam, sebab pak Dudu harus mengurus surat keterangan untuk bisa keluar airport. Mengurus surat keterangan itu kan melibatkan birokrasi yang berbelit-belit (termasuk harus menghubungi konsulat Indonesia melalui telepon). Nah, di sini ibu Dudu kembali mengingatkan kita untuk istigfar (karena di Medinah udah sempet ngeledekin orang-orang OKI/OKU). Akhirnya, kita sampai di asrama haji Madinatul Hujjaj paling belakangan !!!!!!! dan lagi-lagi kita kerepotan untuk mencari kamar sebab sudah didulu'in sama orang-orang OKI/OKU (itulah akibatnya !). Tapi ada untungnya juga kita terlambat lho ! (lagi-lagi positive thinking !). Karena sudah didulu'in ama orang-orang OKI/OKU, maka kita kebagian tempat di lantai teratas (lantai 5) meskipun aku dan beberapa teman bisa nyelip di satu kamar di lantai 4. Nah, lantai 5 itu kosong dan jarang dipakai sehingga kamar mandinya masih lebih bersih dibandingkan dengan kamar mandi di lantai 4. Dengan demikian, kita engga perlu periksa-periksa kamar mandi dulu (yang biasanya sering ada ranjau atau bom nya). Kita bermalam 1 malam di asrama haji itu dan kesibukan kita adalah mencari barang-barang (terutama kopor besar) yang baru datang dari gudang (kopor-kopor ini sudah diangkut dan digudangkan ketika kita mau berangkat ke Medinah). Semua kopor-kopor itu dikumpulkan untuk kemudian dikirim ke airport. Selama kita berada di asrama haji Jeddah, kita dapat makan 5 kali dan hebatnya menu makannya tidak berubah yakni nasi putih, sepotong ayam goreng, sepotong daging goreng, dan sayur oseng-oseng, ditambah dengan satu buah keruk dan satu botol minum. Lima kali makan dengan menu yang sama ! (opo ora bosen tah ? tapi aku sih makan aja, soalnya kan lapar tuh !).
Tanggal 18 Malam hari (jam 20.00) kita diangkut ke airport. Sampai di airport kita masih harus menunggu kira-kira 2 jam duduk lesehan di karpet baru bisa masuk ke bagian imigrasi. Wah......, proses keimigrasian ini lebih seru lagi, soalnya tiap jamaah itu ngegembol barang-barangnya sampai kerepotan sendiri padahal kan kita harus ngantri. Akhirnya barang-barang gembolan itu harus ditinggalkan untuk dipindahkan ke bagasi dan kita hanya membawa tas kecil aja dan jerigen kecil berisi air zam-zam yang diberi oleh Saudi air. Mengatur jemaah untuk ngantri aja udah susah, apalagi untuk memberi pengertian agar barang gembolannya ditinggalin untuk dipindahkan ke bagasi....... mereka takut barang-barangnya engga kebawa atau hilang ! Jadi, kita melalui proses imigrasi itu baru selesai menjelang jam 03.00 (bayangin, 5 jam kita melalui proses imigrasi !) dan langsung masuk ke pesawat. Di dalam pesawat juga terjadi keributan, sebab orang-orang dibebaskan untuk memilih sendiri tempat duduknya. Akibatnya keributan yang terjadi diantaranya rebutan kursi. Jam 04.00 baru kita bisa take-off setelah semua orang bisa memperoleh tempat duduk. Selama penerbangan persoalan yang paling krusial adalah memberikan pengertian kepada para jemaah soal menggunakan WC (kebetulan aku, Deden, mas Iman, ibu Pop, pak Dudu, dan ibu Dudu duduknya dekat WC). Orang-orang itu tidak mau tau meskipun sudah dibilang kalo pesawat masih belum terbang tidak boleh menggunakan WC. Akibatnya mas Iman jadi ribut sendiri nguliahin itu orang-orang (meskipun mereka tetap aja engga mau tau !). Kita sempat transit satu jam di Dahrain lalu penerbangan non stop sampai di Jakarta kira-kira jam 18.30 sore. Di Cengkareng kita tertahan selama kira-kira 2 jam baru kemudian kita diangkut ke asrama haji pondok gede. Di asrama haji pondok gede ini kita bertempur lagi yakni mencari kopor-kopor dan barang-barang lain yang dimasukkan ke bagasi. Baru menjelang tengah malam kita siap di dalam bus yang akan membawa kita ke Bandung. Rombongan Istiqamah mendapat 2 bus dan perjalanan jakarta bandung ditempuh selama 4 jam dengan istirahat di Cipanas. Di Cipanas kita berhenti di rumah makan simpang raya. Wuah...., hidangan masakan padang amat sangat mengundang selera kita yang udah lebih dari satu bulan engga ketemu masakan padang. Tanya aja bagaimana mas Iman ngegasak itu masakan padang ! (dan ternyata ibu Pop sampe sakit perut begitu sampai di Bandung !).
Jam 03.30 tanggal 20 April bus sampai di depan mesjid Istiqamah dan kita disambut oleh para penjemput. Rasanya seperti pahlawan yang baru pulang perang deh ! soalnya peluk cium kerinduan para penjemput mewarnai suasana di waktu menjelang subuh itu. Kita masuk ke mesjid untuk melaksanakan sujud syukur dan berpelukan antar sesama jemaah (kapan ya kita bisa ngumpul lagi ...???) dan setelah itu kita mencari barang-barang sendiri untuk kemudian berpisah menuju rumah masing-masing.
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.