Tugas ke Samarinda - Balikpapan
Dari tanggal 14 sampai 16 Mei 2007 saya mendapat tugas dari Sekolah Pascasarjana untuk menyelenggarakan tes masuk calon mahasiswa S2 kerjasama dengan Departemen Agama di Samarinda (Kalimantan Timur). Tugas yang cukup menantang, sebab pertama-tama saya belum pernah menginjakkan kaki di Kalimantan Timur, dan kedua, ternyata dari Balikpapan (tempat pesawat terakhir mendarat) ke Samarinda hanya dilayani dengan jalur penerbangan perintis atau melalui jalan darat.
Seperti biasanya, perjalanan ini saya ditemani oleh Rina. Kita berangkat dari Bandung menggunakan travel langsung menuju bandara Cengkareng. Perjalanan menuju Balikpapan menggunakan Sriwijaya Air, dan menurut saya maskapai penerbangan itu lumayan bagus, artinya engga terlalu membohongi penumpangnya dan kita juga diperlakukan secara manusiawi. Kita sampai di Balikpapan sekitar jam 16.30 sore, saya langsung melakukan rekonfirm tiket untuk penerbangan kembali ke Jakarta. Maksudnya sih biar engga repot-repot lagi nantinya.
Sesampainya di Balikpapan, dengan menggunakan taxi kita langsung menuju Samarinda. Perjalanan kira-kira 2 jam dan melalui hutan yang jalannya berkelok-kelok. Lumayan tuh bikin kita rada-rada mabok deh.... Kira-kira jam 18.30 waktu setempat (lebih cepat 1 jam dibanding Jakarta) kita masuk kota Samarinda dan langsung diantar ke Losmen Andika. Buset dach, losmennya sangat menyedihkan....., tapi gak apa-apa lah namanya juga gratis kan ??. Setelah sholat dan beberes, kita keluar mencari makan. Kebetulan ada saudaranya Rina di sana, sehingga dia menjadi guide kita. Saya bersikeras ingin makan ikan bakar, sebab kan Samarinda terletak di tepi sungai?
Jadi kita diantar ke salah satu warung makan yang menjual ikan bakar. Saya kira harganya engga mahal-mahal amat deh, sebab itu kan warung makan pinggir jalan, gak taunya setelah selesai makan ikan patin bakar (seorang satu potong) dan tumis kangkung, pas ditagih saya rada shock juga melihat bonnya yang berisikan catatan 1 potong ikan patin bakar harganya Rp. 30.000,-. Buset dach, lebih mahal daripada resto bintang 4 tuh :(
Besoknya saya bertugas menyelenggarakan tes di Madrasah Aliah Negeri Model di Samarinda, dan baru selesai setelah waktu sholat lohor. Kita langsung check out setelah selesai sholat dan kembali melakukan perjalanan darat menuju Balikpapan. Di perjalanan baru aya dapat melihat pemandangan sungai Martapura dan tepi sungainya yang membelah kota Samarinda, lalu ada Islamic Center yang baru selesai dibangun dengan mesjidnya yang megah.
Sesampainya di Balikpapan kita langsung menuju hotel Le Grandeur (dulunya hotel itu bernama Dusit Balikpapan). Hotel yang letaknya menghadap ke pantai, dekat dengan tempat perhentian berbagai kendaraan angkot, sehingga sangat memudahkan kita melakukan mobilisasi. Saya senang dengan hotel ini sebab selain letaknya yang menghadap pantai (meskipun kita engga bisa berenang di situ), kolam renangnya juga lumayan besar dan bersebelahan dengan pantainya, juga karena kemaren waktu di Samarinda saya gak bisa mandi karena losmennya kotor dan tidak ada fasilitas air panasnya (kebayang gak sih saya gak mandi 2 hari???). Kita istirahat sebentar, lalu setelah hari tidak terlalu panas (dan juga udah sholat ashar), kita mulai pengembaraan di kota yang baru pertama kali ini dikunjungi.
Mula-mula kita jalan keluar hotel menuju tempat perhentian angkot, lalu di sana kita naik angkot nomor 5 yang ternyata rutenya membelah kota Balikpapan menuju Pasar Sayur. empat itu memang namanya pasar sayur, tapi kalau kita masuk ke dalamnya (yang daerah pasar impresnya), maka yang kita temui bukan penjual sayur-sayuran melainkan penjual batu-batu perhiasan yang beraneka warna. Wah, sangat mengejutkan melihat penjual batu-batuan berkilauan bertebaran di seantero pasar. Saya sampai bingung, kok namanya pasar sayur tapi yang dijual batu-batuan perhiasan. Yang lebih mencengangkan adalah harganya yang murah banget..... Masa sih, kalung yang melulu berisikan batu perhiasan hanya seharga 15.000,-, lalu jika tertarik dengan batu perhiasan yang satu set, harganya berkisar 10.000,- sampai 40.000,- saja. Bingung kan???? Ini gambarnya saya lagi di pasar sayur, dan teman saya lagi belanja batu-batu perhiasan.
Setelah puas belanja batu-batuan untuk oleh-oleh, dan saya dapat sarung balikpapan yang dibungkusnya dalam keadaan basah, kita kembali ke arah hotel dengan menggunakan angkot nomor 7, yang ternyata rutenya melalui kompleks kilang minyak dan perumahan Pertamina. Jadi kita juga merasa seperti sightseeing deh :). Saya juga sempat menikmati pemandangan laut melalui pantai Melawai di dekatnya kompleks pertamina. Katanya kalau malam pantai itu ramai oleh orang-orang yang berjualan makanan, sayang kita engga berani tuh keluar malam.
Kita turun di daerah pertokoan dekat dengan hotel, di mana lokasinya mirip dengan daerah pertokoan di Batam. Toko-toko itu dibuat dalam blok-blok, dan pada sore hari di depan toko digelar dagangan tukang jualan makanan. Jadi kita duduk di emper toko sedangkan tukang jualannya menggelar dagangan di pinggir jalan, mirip juga dengan pedagang lesehan di Jogya deh. Setelah membeli makanan untuk makan malam, kita kembali ke hotel. Besok paginya, seperti biasa kita sarapan di hotel, dan karena pesawatnya baru take-off siang hari jadi kita masih punya waktu jalan-jalan.
suasana ruang breakfast di Le Grandeur, dan seperti biasanya makan pagi selalu dengan telur mata sapi setengah matang
Setelah sarapan pagi di hotel, dengan berbekal baju berengang lengkap dengan masker, snorkeling, dan fin, kita naik angkot nomor 7 menuju pantai Manggar. Letak pantai manggar tuh kira2 25 km dari hotel ke arah bandara. Di sana kita main air (ternyata engga bisa snorkeling di sana sebab iarnya keruh) sampai puas, lalu minum es kelapa muda. Kembali lagi ke hotel, tapi di perjalanan melihat orang menjual ikan bakar lalu kita beli dulu deh, lumayan untuk makan siang. Sesampainya di hotel saya berenang dulu sampai puas, baru mandi, terus makan ikan bakar deh. Suedap banget tuh ikan bakarnya......
Setelah beberes, kita checkout dari hotel, dan diantar dengan mobil hotel kita menuju bandara Sepinggan. Pulangnya naik Lion Air tuh, tapi ternyata pesawatnya Wings Air, gues lier meureun..........
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.