Hanckey

 

IN MEMORIAM

Page history last edited by hkamarga@... 2 yrs ago

 

IN MEMORIAM MAS IMANUDDIN ISKANDAR

 

Mas Iman adalah kakak ipar saya, suami dari Uni Pop, kakak tertua saya, sehingga beliau adalah orang yang dituakan dalam keluarga saya. Barangkali di antara kami 7 bersaudara, saya lebih sering hidup bersama Uni Pop dan Mas Iman sekeluarga.

 

Dimulai ketika saya masih SD, seringkali waktu liburan saya diisi dengan berlibur ke Bandung, di rumah kakak-kakak saya tinggal selama mereka menempuh kuliah yakni di jalan Caladi no. 52 Bandung. Waktu itu Uni Pop belum menikah, sehingga saya selalu tidur di kamarnya. Masa berpacaran mereka pada waktu itu cukup unik, sebab kalau mereka mau pergi bareng, Uni Pop seringkali mengajak serta saya sehingga saya dan Uni Pop naik becak dan di belakangnya mas Iman mengendarai motor. Kalau saya mau berenang ke rumah peristirahatan Bank Indonesia yang terletak di jalan Tubagus Ismail, maka mas Iman sering membantu saya yang terengah-engah menggenjot sepeda dengan cara mendorong saya dari motornya. Juga saya tidak pernah melupakan kenangan ketika saya dibelikan mainan monopoli oleh Uni Pop lalu saya menantang mas Iman untuk main monopoli, tapi permainan itu berakhir karena saya kalah sebab dicurangi oleh mas Iman. Saya kesal sekali tapi engga bisa berbuat apa-apa karena kan saya masih kecil???

 

Ketika mereka berdua menikah, saya banyak terlibat dalam menyiapkan upacara perkawinan tersebut. Pada waktu itu mama sakit sehingga saya lebih banyak disuruh-suruh untuk membantu. Tetapi semua itu dilakukan dengan senang hati sebab upacara perkawinan itu adalah yang pertama akan diselenggarakan dalam keluarga saya. Setelah selesai upacara akad nilah, saya diberi boneka kecil yang lucu, mungkin sebagai ucapan terima kasih ya?. Setelah menikah, mas Iman dan uni Pop masih tinggal di Caladi 52. Saya teringat ketika uni Pop masih hamil dan waktu itu hari kemerdekaan. Karena sedang hamil tua, jadi uni Pop engga bisa jalan-jalan, padahal kan hari kemerdekaan itu adalah hari libur. Kemudian mas Iman mengajak saya jalan-jalan naik motor ke Lembang. Sepanjang jalan setiabudi, mas Iman tereak-tereak kalau ketemu sama remaja-remaja cina yang juga mengisi waktu liburnya ke Lembang. Rasanya sih seneng-seneng aja waktu itu. Mas Iman bilang, mumpung engga ada uni Pop jadi kita bisa ngegangguin cewe-cewe cina....

 

Tidak lama setelah Lendra lahir, mereka pindah ke rumah di jalan Brantas no.7. Waktu itu saya tidak lagi terlalu sering berlibur ke Bandung, mungkin karena kesibukan sekolah (udah SMA nih...) dan kegiatan menari yang cukup menyita waktu saya. Setelah saya lulus SMA dan kuliah di Unpad, saya tinggal di rumah mas Iman yakni di jalan Brantas. Hampir 2 tahun saya tinggal di sana dan saya pindah ke rumah sendiri karena menikah. Awal-awal waktu kuliah, saya dibelikan motor oleh papa meski saya sendiri belum bisa mengendarai motor (gila ya, masa gak bisa naik motor padahal udah jadi mahasiswa?). Jadi untuk sementara motor itu cuma dipandangi saja dan bolak balik dicuci biar kinclong.... :)

 

Akhirnya, mungkin karena kasihan, mas Iman menyediakan waktunya untuk mengajari saya mengendarai motor. Suatu sore saya dibawa berkeliling sekitar gedung sate, cimanuk, bengawan, serayu, brantas, dengan mengendarai motor. Mas Iman mengajari saya bagaimana caranya menstarter motor, memasukkan persneling, dan kemudian membesarkan gas supaya motor bisa melaju. Dalam waktu yang tidak terlalu lama (cuma sesore itu aja) saya sudah bisa mengendarai motor. Wuah, rasanya keren banget bisa naik motor.... Besoknya langsung saya bikin SIM, dan beberapa hari kemudian saya bisa naik motor ke kampus. Hari-hari berikutnya saya disibukkan dengan kegiatan kuliah, main, dan pacaran (???).

 

Setelah saya menikah dan pindah ke rumah sendiri, saya jadi tidak terlalu sering main ke Brantas. Tetapi setelah anak pertama saya cukup besar untuk diajak jalan-jalan, maka biasanya tujuan utama kita jalan-jalan tuh pasti aja ke Brantas, sebab uni Pop punya anak kembar yang usianya hanya terpaut 2 tahun dengan anak saya.

 

Kenangan yang paling tidak bisa saya lupakan adalah ketika mas Iman mengajak saya dan Deden untuk berhaji. Rasanya pergi berhaji tuh sesuatu yang tidak berani saya impikan (jangankan menginginkannya, untuk memimpikannya saja saya gak berani, sebab pergi berhaji memerlukan biaya yang tidak sedikit). Tahun 1999, ketika negeri ini sedang terseok-seok dilanda krisis moneter, saya dan suami diajak oleh mas Iman & uni Pop untuk berhaji (tentunya dengan biaya dari beliau). Bener-bener seperti mimpi rasanya bisa melihat dan menjejakkan kaki di Masjidil Harom. Selama lebih dari 30 hari kami selalu bersama, saya dengan uni Pop sekamar dan mas Iman dengan Deden juga sekamar. Suka duka selama berhaji kami lalui bersama. Mas Iman paling sering pergi ke Harom pada waktu tengah malam, sehingga kemudian kita juga mempunyai kebiasaan yang sama yakni setelah jam 11.00 malam kita jalan kaki ke Masjidil Harom, lalu sesampainya disana kita tawaf bersama, dilanjutkan dengan bersegar ria di sumur zamzam, kemudian dilanjutkan dengan sholat tahajud, baca Qur'an sambil menunggu waktu sholat subuh. Nah, yang paling mengesankan tuh adalah ketika selesai sholat subuh, dalam perjalanan kembali ke penginapan, mas Iman selalu mengajak kita untuk jajan (beliau memang hobbynya makan..), mulai dari jajan ice cream, kebab, sampai jauh ke jalan raya mencari cemilan makanan indonesia atau martabak india. Asik banget tuh, kita jajan banyak, lalu dibawa ke penginapan, trus makan rame-rame di penginapan. Selain jajan, mas Iman juga seneng kalau di penginapan dimasakin masakan sunda, terutama lalab dan sambal. Kalau sudah begitu, maka kita bisa ribut rebutan sambal....

 

Ini gambar ketika sedang santai di penginapan di Mekkah, mas Iman iseng banget..

 

ketika kita bersiap-siap akan berhaji ke arofah, berturut-turut dari kanan adalah saya, Deden, uni Pop, mas Iman

 

ketika bermalam di alam terbuka di Muzdalifah, mas Iman dan pak Dudu nungguin Deden yang lagi asik tidur

 

Pengalaman lain yang juga sangat berkesan bagi saya adalah ketika tahun berikutnya (2000) kami sekeluarga yakni saya, Deden, Alfa, dan Vio bersama-sama berumroh dengan uni Pop, mas Iman, dan saudara2nya mas Iman. Rame deh kita satu rombongan itu mayoritas keluarga.. Dengan menggunakan jasa travel Megacitra kita berumroh bareng. Selain kenikmatan beribadah, juga ada kesan tersendiri ketika kita bisa bersama-sama berumroh. Kegiatan ibadah yang sama yang kita lakukan seperti waktu berhaji adalah menghabiskan malam di Masjidil Harom.

 

Itulah kenangan yang lekat dalam pikiran saya mengenai mas Iman, kakak yang baik, sabar ngajarin naik motor, tapi juga kadang-kadang suka keluar jailnya...

 

Selamat jalan mas Iman, mudah-mudahan semua amal baik, ibadah, dan iman Islam mas Iman diterima oleh Allah, SWT.

 


 

YOUR COMMENTS


Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.