Hanckey

 

Di Mina dan Jumroh

Page history last edited by hkamarga@... 9 mos ago

 

Tempat melempar jumroh dilihat dari pemondokan

 

Rombongan Istiqamah masih 3 hari lagi di Mina, sebab kita melaksanakan nafar tsani yakni melempar jumroh (Wula, Ustha, dan Aqobah) dilakukan dalam 3 hari berturut-turut. Hari pertama melempar 3 jumroh dilakukan sore hari, sedangkan pagi harinya dilakukan pemotongan hewan kurban tapi aku engga ikut ke tempat pemotongan. Aku dan ibu Pop naik ke atas tempat pemondokan (ke bukit) sebab ibu Pop mau nelpon ke Bandung. Kebetulan di Bandung lagi pada ngumpul di Cipaku, jadinya bisa ngobrol deh ! Waktu ibu Pop lagi nelpon, aku naik lagi ke bukit lebih tinggi sambil liat-liat tenda-tenda tempat tinggalnya orang-orang Arab. Dari sana aku bisa langsung melihat tempat melempar jumroh dan suara gaung ribuan orang yang lagi melempar jumroh terdengar sampai di atas bukit. Aku membayangkan betapa mengerikannya kalo batu-batu di perbukitan itu longsor, sebab ternyata bukit-bukit itu hanya terdiri dari batu-batu yang tidak sedikit batu-batu tersebut hanya menempel begitu saja. Tapi untungnya apa yang aku bayangkan itu tidak terjadi ! Sore hari (setelah waktu ashar) kami serombongan melempar jumroh dan setelah selesai melempar aku dan Deden jalan-jalan lagi nonton orang-orang Rusia yang jualan di pinggir jalan. Begitu tiga hari berturut-turut kita lakukan pelemparan jumroh pada waktu setelah ashar.

  

Setelah melempat jumroh kita bisanya jalan-jalan nonton pedagang kagetan

Ada peristiwa aneh yang dialami oleh Deden. Hari pertama melempar jumroh Wula-Ustha-Aqobah (yang tetap aja berjubel manusia meskipun sudah dipilih waktu sore hari dengan perkiraan tidak terlalu penuh !) Deden sempat mengalami ketimpuk batu kepalanya. Rupanya beliau marah dan kesal sehingga pada hari kedua melempar dia memakai topi yang di dalamnya dialas pake block-note dan handuk kecil. Alasannya supaya kalo ketimpuk batu engga merasa sakit (tampaknya dia nantang alias kurang pasrah khan ?). Eh...., ketika melempar dia kena lagi, tapi bukan kena timpuk batu melainkan kena sodok kepalanya ame orang dari Malaysia. Dia marah-marah lagi, bahkan setelah selesai melempar waktu kita lagi nungguin anggota rombongan yang lain, dia mondar-mandir mau nyari itu orang Malaysia yang nyodok kepalanya. Aku udah bilang, kita engga usah marah-marah deh... (gimana mau nemu'in itu orang malaysia di antara ribuan orang ?), kan kena sodok kepala itu bukan disengaja tetapi memang karena keadaan yang berjubel-jubel manusia yang ingin melempar jumroh dekat dengan tempat pelemparan. Aku cuma bisa bilang sebaiknya kita istigfar aja deh ! Setelah diingatkan begitu baru Deden sadar, dan pada hari ketiga dia bahkan engga pake apa-apa di kepalanya, hanya dengan niat pasrah melempar jumroh. Ternyata hari ketiga itu lebih penuh lagi orang-orangnya tapi kita dengan mulus bisa mendekati tempat pelemparan dan melaksanakan pelemparan dengan lebih mudah (begitu kita mau menuju tempat pelemparan, seolah-olah kerumunan orang di depan kita menyingkir dan jalan terbuka lebar !). Well, disitulah baru Deden menyadari bahwa dalam keadaan apapun, kita hanya bisa meminta pertolongan dari Nya !

 

Deden kerjanya makan dan ngopi melulu....

 

Hari terakhir melempar jumroh adalah hari yang paling berat sebab di pondokan sudah tidak ada air. Ini disebabkan kesulitan dari pihak pengurus pondokan mendatangkan air dari Mekkah (jalanan macet total karena sebagian orang sudah pulang yakni orang-orang yang melaksanakan nafar awal jadi hanya 2 hari melempar jumroh, dan kemacetan itu diperparah dengan parkirnya bus-bus besar di pinggir jalan untuk menjemput jemaah ditambah lagi sebagian pedagang pinggir jalan membongkar tenda-tendanya. Akibatnya jadi semrawut engga karuan dach dan mobil tangki air engga bisa lewat ! Kita yang masih tinggal sampe sore ini yang kelimpungan engga ada air. Terpaksa keinginan be'ol dilupa-lupain dan kalo udah kebelet pengen pipis trus nyari kamar mandi di pondokan tetangga yang kira-kira masih ada airnya. Informasi tentang ketersediaan air ini menjadi sangat penting buat kita termasuk juga kalo sangat terpaksa air minum aqua dibeli untuk cebok ! (sayangnya sebagian besar pedagang minum sudah angkat kaki, sehingga mencari air minum aqua pun cukup sulit).

 

Sore hari setelah melempar jumroh terakhir kita bersiap-siap untuk kembali ke Mekkah. Menjelang magrib kita sudah berada lagi di pondokan di Mekkah dan keributan terjadi karena hampir semua orang mau menggunakan kamar mandi. Persoalan kedua muncul yakni tidak ada konsumsi, sebab begitu sampai di Mekkah kateringnya belon siap untuk mengirimkan makanan. Jadi, persediaan supermie (yang sejak awal datang kita diberi sahara berisi 7 bungkus supermie dan engga pernah ditengok-tengok) baru dikeluarkan untuk santapan makan malam.

 

Waktu yang 8 hari di Mekkah (sebelum kemudian kita ke Medinah) diisi dengan kegiatan selain ibadah, makan, tidur, juga ditambah dengan kegiatan belanja ! (khan peraturan tidak boleh belanja udah dicabut bo' !). Tapi juga ada kegiatan lain yakni masak sendiri sebab ternyata banyak anggota rombongan yang udah kagak mau lagi pake catering. Karena aku engga pandai masak, jadinya aku dan ibu Pop hanya menitipkan uang untuk dimasakin sama anggota rombongan kita yang pinter masak. Jadinya khan aku cuma tinggal makan aja toch ? Asyiknya tuh ternyata makanan yang muncul adalah masakan Indonesia dengan tidak ketinggalan sambel dan lalabnya. Dan yang hebatnya lagi ternyata masak sendiri itu lebih irit duitnya.

 

Ada satu hari rombongan Istiqomah dan Ibadurahman diajak oleh pak Dudu tour ke Jeddah khusus buat belanja. Kita pergi hari sabtu pagi (dengan membayar masing-masing 50 real untuk ongkos carter bus) dan pulangnya menjelang tengah malam. Di Jeddah kita pergi ke Corneesh (salah satu pusat perbelanjaan kayak di Mangga dua), Heraa Super store (pusat perbelanjaan juga yang letaknya di Heraa street) trus menyusuri pantai laut merah (sholat magrib di mesjid Putih yang terletak menjorok ke laut merah) sambil melihat air mancur tertinggi di Arab yang letaknya dekat dengan istana raja (kalo kata ibu Pop, sudah beberapa kali ke Arab tapi selalu tidak pernah bisa melihat air mancur ini sebab air mancur ini dipasang hanya pada hari kamis, sabtu dan minggu malam. Baru sekarang ibu Pop bisa menikmati muncratnya si air mancur ini). Soal belanja-belanja ini memang mengasyikkan, tapi bagi yang kantongnya tebal tentunya. Tapi aku juga menikmati suasana di pusat-pusat perbelanjaan tsb, sebab memang toko-tokonya itu kebanyakan adalah toko-toko dari barang-barang bermerek. Di dalam pusat perbelanjaan itu lebih banyak aku menghabiskan waktu berduaan dengan Deden duduk-duduk sambil menikmati kopi susu dan ice cream. Ini kesempatan kita bisa ngobrol banyak, soalnya kan di pondokan kita lebih sering terpisah karena kamarnya pisah. Menjelang tengah malam kita kembali ke Mekkah. Brafo buat pak Dudu yang bisa mengajak kita jalan-jalan keluar Mekkah. Aku dengar cerita katanya ada rombongan lain yang juga jalan-jalan ke Jeddah (karena mendengar rombongan Istiqamah bisa) tapi tertahan di Jeddah sampai 5 hari engga bisa kembali ke Mekkah karena dipersoalkan tidak membawa pasport/tidak ada surat ijin khusus. Rupanya mereka sempat terkena pemeriksaan di jalan dan mereka tidak tahu bahwa untuk keluar Mekkah itu harus mengurus surat ijin khusus.

 

  

Deden lagi di Corneesh & saya di Herra Superstore Jeddah

 

Sisa hari di Mekkah diisi dengan kegiatan ibadah ke Haram (seperti biasanya kita berempat melakukan ibadah sore hari sampai selesai magrib dan lewat tengah malam sampai subuh) dan diselingi dengan sedikit belanja-belanja di pasar seng, di pusat pertokoan Hilton, dan di pusat pertokoan Aziz Kogheer, sambil tidak lupa berburu dagangannya orang-orang Rusia ditambah dengan dagangannya orang-orang Cina yang khusus menjual mutiara.

Kalo pertama-pertama kita sering sholat di lantai 2 depan multazam, pada waktu akhir-akhir kita sholatnya pindah ke bagian Masjidil Haram yang baru di mana ruangannya diberi pendingin (AC). Letaknya di bagian depan mesjid yang pintunya menghadap Hilton / plaza utama. Deden setiap ke Haram sibuk ngangkutin air zamzam (yang dibawa pake kantong plastik) untuk kemudian di pemondokan dituangkan ke jerigen kecil. Sampai hari terakhir di Mekkah bisa memenuhkan 2 jerigen kecil air zamzam (lumayan lah, untuk oleh-oleh anak-anak di rumah !). Hari terakhir di Mekkah kita melaksanakan tawaf wada (tawaf perpisahan) dan aku berdua Deden melaksanakannya setelah kita sholat subuh. Dikira'in Haram teh bakalan rada-rada sepi karena sudah mulai ada jemaah yang pulang ke negaranya masing-masing, eh....., engga taunya penuhnya Haram terutama yang melaksanakan tawaf engga berkurang. Sampai-sampai untuk tawaf wada ini aku dan Deden melaksanakannya di lantai 2. Karena kita tahu bahwa setelah tawaf wada kita engga boleh lagi ke Haram (padahal kita meninggalkan Mekkah baru malam hari), rasa-rasanya kita ingin memperlambat tawaf wada ini. Malah begitu putaran ketujuh selesai ada keinginan untuk tinggal di dalam Haram. Tapi apa daya, dengan berat hati dan linangan air mata kita terpaksa harus pergi.

 

Diiringi do'a permintaan agar diberi kesempatan untuk kembali ke Haram di waktu mendatang, aku dan Deden meninggalkan Haram dan selama perjalanan pulang ke pondokan kita lebih banyak berdiam diri. Entah apa yang berkecamuk dalam hati ini, tapi yang pasti ada semacam rasa kehilangan bahwa selama ini aku diberi kenikmatan untuk beribadah di Masjidil Haram dan melakukan tawaf memutari Ka'bah, sekarang aku harus meninggalkan semua ini. Yah, mudah-mudahan bukan hanya kesempatan kali ini saja aku bisa menikmati itu semua, tapi barangkali Allah masih mau memberi kesempatan yang lain kepada aku dan Deden untuk kembali mengunjungi tanah suci memenuhi undangan Nya. Malam hari kira-kira jam 20.00 kita berangkat meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.