Hanckey

 

Cerita di rumah Thalia

Page history last edited by hkamarga@... 2 yrs ago

Cerita di Rumah Thalia

 

 

Pagi-pagi sekali kita check-out dari backpackers inn dengan membawa gembolan ransel yang sudah mulai bengkak dengan buku-buku. Sebenarnya waktu itu hujan masih mengguyur Singapura, dan sebelum berangkat kita sempat breakfast dulu di foodcourt yang ada dipojokan Mosque st. dengan menu teh tarik hangat dan roti panggang. Cegat taksi langsung menuju Chip Bee Gardens, Jalan Rumia, rumahnya Thalia. Wah, seneng sekali lihat rumah tempat tinggalnya Thalia dan Ari dan Aina, nyaman dengan suasana perumahan yang sejuk dan banyak tanam-tanaman. Aina lucu ..., gemes deh lihat bayi kecil begitu :)

 

Kecil banget ya babynya ??

 

Saya lagi gendong Aina, trus juga ngobrol sama Thalia & Ari

 

Di sana kita juga kenalan sama Koda, mirip banget sama gufi kita yang sekarang sudah almarhum. Itu anjing lucu dan baik hati, pengennya main aja…, jadi diajak kejar-kejaran deh sama Vio. Saya bener-bener teringat Gufi kalau melihat tingkah polah Koda, sangat mirip terutama familiarisasinya. Cuma kalau Koda itu baik ke semua orang termasuk tamu yang belum dikenal, Gufi lebih cenderung galak ke orang yang tidak dia kenal.

 

Ini Koda masih dikurung karena exiting

 

,

Koda sudah bisa main sama Vio

 

Ternyata ketika pertama digendong sama saya, Aina pipis tuh…., jadi kelihatannya bisa lengket ya Aina ke saya? Hehehe… Karena ngompol itu lalu Aina harus diganti dulu popoknya. Saya dan Thalia naik ke kamarnya Aina untuk ganti popok. Rumahnya Thalia tuh nyaman sekali, pergantian udaranya sangat baik, jadi kayaknya engga terlalu perlu dipasang AC ya..

 

Liat tuh, ibu muda sudah terampil ganti popok

 

Nah, mumpung lagi di rumah Thalia yang mereka keduanya sudah kenal betul dengan Singapura, saya minta tolong Ari dan Thalia untuk memberi pelajaran kepada Vio dan Rina rute bus yang bisa kita pakai untuk menjelajah. Jadi Vio dan Rina diberi pelajaran singkat oleh Ari tentang bagaimana dan dimana saja kita bisa mencegat bus. Kan jadinya kita bisa lebih menghemat tuh, engga terlalu sering pakai taksi. Termasuk juga Rina menggunakan kesempatan ini untuk mentransfer foto-foto yang ada di kameranya ke flashdisk (lumayan kan mumpung di situ ada komputer, jadi memori yang ada di kameranya bisa diisi lagi dengan foto-foto baru dan foto-foto yang kemaren diamankan dalam flashdisk).

 

Lagi pada belajar rute bus dan mindahin foto-foto ke flashdisk

 

Setelah cukup lama bertamu dan mengganggu kesibukan tuan rumah, kita pada pamit deh, tapi gembolan ransel dititip di rumah mereka karena saat itu kita lagi engga punya tempat sebab baru bisa check-in di hotel Oxford nanti jam 14.00. Karena kita masih mau hunting buku ke Borders dan Kinokuniya, jadi semua barang dititip dulu. Nanti siang kalau sudah check-in di hotel baru barang-barang tersebut akan diambil oleh Vio. Untuk mempraktekkan hasil belajarnya Vio dan Rina, kita mencoba menggunakan bus ke Orchard rd. Ternyata bisa lho…..!!! Setiap orang ditarik bayaran 1.10 dolar, dan kita turun dekat sekali dengan Wheelock alias Borders. Nah, ceritanya disambung ke kisah tentang Hunting Buku ya..

Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.