Medan, Danau Toba, Parapat
16 - 22 Juli 2007 yang lalu saya berkesempatan untuk yang kedua kalinya mengunjungi Medan (Sumatera Utara). Ketika pertama kali mengunjungi kota Medan saya tidak mempunyai kesan yang mendalam (karena hanya bisa nangkring di hotel dengan setumpuk kegiatan seminar & lokakarya TPSDP Dikti, tanpa bisa jalan-jalan kemana pun), maka kali ini kesannya cukup mendalam dan menyenangkan, sebab saya berkesempatan jalan-jalan ke Parapat dan menyeberang danau Toba untuk melihat desa Tomok.
Kegiatan utama ke Medan kali ini adalah mengikuti pertemuan Program/Sekolah Pascasarjana se Indonesia yang diselenggarakan di hotel Tiara Medan. Pertemuannya sendiri sih berkesan asal ketemu aja dan tidak ada yang istimewa di situ. Tampaknya memang panitia (dalam hal ini Program Pascasarjana USU) lebih mengutamakan peserta untuk bisa jalan-jalan, sebab pertemuan ilmiahnya cuma setengah hari udah gitu selesai dach!!! Besoknya kita diangkut ramai-ramai ke Parapat di tepi danau Toba.
Ketika masih di Medan, saya sempat jalan-jalan mengunjungi istana Maimuna dan Mesjid Raya Medan. Saya mencoba CATOR (beca motor) yang unik, sebab dari sebuah motor roda dua disulap menjadi angkutan serupa beca (roda 3) tetapi menggunakan motor. Ternyata memang jalan-jalan di dalam kota medan lebih asik jika menggunakan cator, soalnya kan di sana tuh lalu lintasnya lebih gila ketimbang Bandung. Mereka selalu bilang "ini Medan, bung!!" yang maknanya mau berbuat seenaknya juga gak usah marah deh sebab kan ini medan...... (konyol banget ya??)
ini sosok cator Medan
Nah, ketika mengunjungi Istana Maimuna, saya agak kecewa, sebab bangunannya kurang terurus dengan baik, terkesan kotor dan kumuh. Tapi ya lumayan lah bisa lihat yang namanya istana Maimuna. Kita berfoto ria di sana, dan ternyata bangunan di sebelah belakang istana digunakan untuk tempat tinggal keluarga istana (masih ada seorang pangeran yang berumur 10 tahun, yang nantinya akan dinobatkan menjadi raja. ajanya sendiri baru setahun yang lalu meninggal karena kecelakaan pesawat terbang).
tampak muka dan samping istana Maimuna
saya berfoto ria dengan teman-teman dari Pascasarjana UNPAD & Univ. Bengkulu
Setelah puas berkeliling di istana Maimuna, kita jalan kaki ke Mesjid Raya Medan. Letaknya berseberangan (sangat dekat) dengan istana Maimuna. Mesjid ini cukup megah meski juga terkesan kurang terawat baik. Saya engga bisa masuk sebab kedua teman saya tidak menggunakan pakaian muslimah (ada aturan jika ingin masuk ke mesjid ini yang perempuan harus berpakaian muslimah). Jadi saya lihat-lihat aja dari luar.
Mesjid Raya Medan
Besoknya, kita diboyong pindah ke Parapat. Dengan menggunakan kendaraan bus, kita menuju Danau Toba. Perjalanan dan Medan ke Parapat tuh kira-kira 5 jam sambil kita berhenti sebentar untuk mengambil jatah makan siang (makanannya berupa nasi dengan burung goreng yang dipaket sehingga bisa dimakan sambil busnya berjalan). Pemandangan menuju Parapat setelah dekat dengan danau Toba sangat cantik, kita mengelilingi danau sambil jalannya menurun, pokoknya cantik sekali deh :). Hotelnya terletak di pinggir danau dan kamarnya menghadap danau, sangat cantik... (kita menginap di Hotel Inna Parapat). Ternyata pantai danau tuh berpasir putih, jadi seperti di pinggir panai laut aja,cuma airnya engga asin. Tapi saya engga sempat merasakan berenang di danau Toba, soalnya saya engga bawa baju berenang sih :(
Pemandangan pinggir danau Toba dekat hotel tempat kita menginap
Sesampainya di Parapat (kira-kira jam 2 siang) kita langsung dibawa untuk menyeberangi danau Toba menuju desa Tomok tempat peninggalan Raja Sidabutar. Penyeberangan menggunakan kapal-kapal motor yang memang didisain untuk para turis. Di dek kapal sudah tersedia bangku-bangku (mirip kapal-kapal motor yang ada di Singapore River). Penyeberangan memakan waktu sekitar 45 menit, tapi kita bisa menikmati indahnya pemandangan di sekitar danau Toba. Udaranya yang sejuk juga menambah semangat kita untuk berpetualang.
Comments (0)
You don't have permission to comment on this page.