Hanckey

 

Banjarmasin

Page history last edited by hkamarga@... 3 yrs ago

Ke Banjarmasin

 

Hari Jumat yang lalu (17 November 2006) saya ke Banjarmasin dalam rangka presentasi tentang KTSP di Universitas Lambung Mangkurat. Ini adalah untuk yang pertama kalinya saya ke Kalimantan, jadi engga usah heran kalo saya begitu norak liat sungai yang lebar dan rumah-rumah penduduk yang letaknya di atas sungai. Saya menginap di Swiss Belhotel Borneo, lumayan dach meskipun menurut saya harga yang harus dibayarkan untuk hotel tersebut terlalu tinggi jika dibandingkan dengan fasilitas yang diperoleh. Ternyata menurut pak Wisnu (dosen FKIP Unlam) hotel-hotel di Banjarmasin paling tinggi hanya bintang 2 dan mereka tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan hotel tersebut karena daerah ini bukan daerah wisata. Kalau menurut saya sih pandangan yang begitu tuh keliru, sebab sebagai "kota air", Banjarmasin bisa memperoleh PAD lebih banyak bila menyulap wilayahnya menjadi wilayah wisata.

 

ini baru mendarat di bandara Syamsuddin Noor

foto sebelah kiri adalah tampak muka Swiss Belhotel yang terletak di tepi sungai Martapura, dan foto di sebelahnya adalah sebagian sungai Martapura yang terlihat dari dermaga kecil di halaman depan hotel

 

Apa yang dimaksud dengan "kota air"? ternyata kota Banjarmasin dilalui oleh 2 buah sungai yakni sungai Martapura dan sungai Barito. Sungai martapura lebarnya tidak terlalu mencengangkan, selain memang sungai tersebut tidak terlalu lebar, juga kepadatan rumah penduduk di atas sungai menyebabkan terjadi penyempitan. Sungai Barito sangat lebar, dan itu dapat dilihat dari panjangnya jembatan Barito.

 

Sesampainya di Banjarmasin saya dijemput oleh teman-teman dari FKIP Jurusan IPS Universitas Lambung Mangkurat (pak Porda yang baru diwisuda S3 IPS dan pak Wisnu), lalu di bawa makan siang yang aduhai nikmatnya... (ikan haruan bakar, ikan lais bakar, udang bakar ditambah sambalnya yang suedap banget). Setelah kenyang makan baru diantar ke hotel dan saya tidak keluar lagi karena cape.

 

Keesokan harinya saya harus presentasi di kampus Unlam, bicara tentang KTSP dan audiensnya selain dosen-dosen IPS FKIP Unlam juga diundang guru-guru SMP, SMA/SMK se kota Banjarmasin.

 

suasana dalam ruang seminar

 

Karena pembicaranya hanya saya sendiri, maka acara selesai pukul 13.00. Lalu setelah sholat lohor di mesjid kampus, kami mengisi waktu dengan mengunjungi objek-objek bersejarah yang ada di kota Banjarmasin. Mula-mula saya diajak makan siang di resto Cendrawasih dengan menu yang hampir sama (ikan patin bakar, udang bakar, telur ikan yang digoreng, sayur lemak siput).

 

Betapa menggiurkan makanan yang tersaji itu, membuat perut dua kali lebih lapar...

 

Setelah kenyang makan, saya diajak mengunjungi mesjid tertua yang ada di Kalimantan, namanya mesjid Suriansyah. Mesjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1700an dan sudah 3 kali mengalami renovasi. Meskipun demikian beberapa bagian dari mesjid tersebut masih asli, seperti 4 buah tiang utama, mimbar, dan 2 buah daun pintu yang ada di wilayah mimbar.

Tampak luar bangunan mesjid

 

Berdekatan dengan bangunan mesjid terdapat makam sultan Suriansyah dan keluarganya. Kami mengunjungi makam tersebut. Di lokasi makam terdapat makam Sultan Suriansyah dan makam istrinya, makam orang yang mengislamkan sultan Samudra (yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Suriansyah), makam kedua anak sultan Suriansyah.

 

Foto-foto di atas memperlihatkan suasana di makam Sultan Suriansyah

 

Dari kompleks Kuin, yakni tempat lokasi mesjid Suriansyah dan makam, kami bergerak menuju jembatan Barito, lebih kurang menempuh 20 menit perjalanan. Sayangnya lokasi jembatan yang pada awalnya dibuat tempat objek wisata sekarang tampak sangat tidak terurus. Sampah bertebaran dimana-mana, rumput ilalang sudah tinggi, dan bangunan-bangunan seperti pendopo untuk beristirahat sudah hampir roboh.

 

jembatan Barito yang hampir mirip dengan jembatan Barelang di Batam

 

Hari terakhir berada di Banjarmasin saya mencoba untuk menelusuri sungai dan mengunjungi pasar terapung. Perjalanan dimulai pada jam 05.00 pagi setelah sholat subuh. Kami menyewa perahu klotok dan perjalanan menyusuri sungai dimulai dari depan hotel. Saya melihat bagaimana aktivitas pagi hari penduduk yang membangun rumahnya di atas sungai (mandi, sikat gigi, cuci pakaian, semua dilakukan di belakang rumah yang notabene berada di atas sungai). Setelah berperahu sekitar 1 jam sampailah kami di sungai Barito (luebaarr banget...) dan masih dapat melihat aktivitas pasar terapung.

 

beberapa perahu klotok bertansaksi barang-barang kebutuhan pokok, dan ada juga warung terapung yang menjual soto banjar

 

Perjalanan menyusur sungai ditutup dengan makan pagi di resto yang berada di tepi sungai Barito dengan menu soto banjar. Sambil makan kami dapat menikmati pemandangan sungai Barito, nikmat banget rasanya.... Perjalanan menyusur pantai hanya sampai jam 09.00 pagi, lalu kami kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk pulang ke Bandung

 

 


 

YOUR COMMENTS


Comments (0)

You don't have permission to comment on this page.